JAKARTA, BPOST – Pengusaha mebel mengeluhkan mulai terbatasnya rotan akibat bahan baku untuk mebel dan kerajinan itu banyak yang langsung diekspor dalam bentuk mentah. Ekspor mebel rotan kini tinggal 10 persen dari sebelumnya.
“Di Cirebon misalnya, awalnya bisa mengekspor rata-rata 2.000 kontainer mebel rotan per bulan. Tapi ketika saya ke sana pada Agustus 2007, ekspor mebel rotan tinggal 200 kontainer karena bahan baku rotan banyak dieskpor ke luar,” ujar Menteri Perindustrian, Fahmi Idris pada pameran produk interior dan craft ICRAFT 2008 di Jakarta Convention Center, Rabu (18/6).
Saat ini Indonesia masih merupakan pemasok utama rotan ke pasar dunia. Indonesia memasok 80 persen rotan dunia. “Pengusaha mengalami kesulitan mencari bahan baku rotan karena petani rotan lebih memilih untuk mengekspor produksi,” ujarnya.
Fahmi pun lalu meminta instansi terkait untuk melarang ekspor lima jenis rotan mentah yang selama ini digunakan para produsen mebel rotan dalam negeri.
Untuk membahas itu, para pengusaha dan pihak terkait telah bertemu di Palu, Sulawesi Tengah. Menurut Fahmi, dalam pertemuan itu disepakati suatu kebijakan yang mengutamakan rotan untuk furnitur dalam negeri.
“Hasilnya dalam pertemuan itu kita boleh mengeskpor rotan tapi hanya yang tidak digunakan untuk industri dalam negeri itu. Ada lima jenis rotan yang sangat dibutuhkan industri furnitur dalam negeri,” ujarnya.
Selain lima jenis itu, rotan lainnya boleh diekspor. “Tapi saya minta dalam bentuk setengah jadi bukan mentah. Kini bolanya ada di Depdag,” ujarnya.
Sama seperti di tingkat nasional, di Kalsel, realisasi ekspor produk rotan Januari-Mei 2008 turun. Volume ekspor mencapai 22.980.723,60 kilogram dengan nilai 898. 950,34 dolar AS. Jika dibandingkan dengan ekspor Januari- Mei 2007, volume ekspor produk rotan turun 1,29 persen dan nilainya turun 14,22 persen.
Menurut Kabid Perdagangan Luar Negeri Diperindag Kalsel Siti Djumiah, salah satu faktor penyebab turunnya ekspor produk rotan Kalsel adalah bahan baku rotan dari Kalteng, yang banyak di ekspor langsung.
“Penurunan mungkin masih terkait bahan baku rotan, karena informasi yang kami ketahui, eksportir dari luar Kalimantan banyak yang membeli langsung rotan bulat ke petani,” ujarnya.
Dikatakannya, ekpor produk rotan Kalsel tidak ada berbentuk mebel. Kebanyakan produk rotan Kalsel yang diekspor setengah jadi. “Dari Kalsel hampir tidak ada ekspor mebel rotan. Mebel itu dari industri rotan di Jawa yang bahannya diambil dari Kalteng. Sedangkan beberapa industri di Kalsel yang banyak diekspor itu rotan taman (rotan bulat). Sementara yang setengah jadi adalah hati dan kulit rotan. Untuk produk jadi dalam bentuk lampit rotan, tikar, keranjang, dan tikar rotan,” ujarnya. (ff/dtc)
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar
