JARAK Banjarmasin dari Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar cukup jauh. Tapi itu tidak menyurutkan Aminah untuk turut memeriahkan Festival Budaya Pasar Terapung 2008.
Aminah adalah petani dari Desa Madang. Di tengah teriknya matahari, Aminah menyeka keringatnya sambil menunggui dagangannya beragam buah dan cabe di jukungnya.
(Pasar Terapung)
“Penjualan mulai pagi hari tadi cukup lumayan. Barang yang kami bawa, banyak yang terjual. Rata-rata suka buah buahan yang asli kami bawa dari Lok Baintan,” kata Aminah, saat disambangi di tepi dermaga khusus Pasar Terapung buatan di siring depan Gubernuran.
Menurutnya, buah yang dijualnya hasil kebun sendiri. Walaupun jaraknya cukup jauh, tetapi tak menyurutkan tekadnya berjualan guna meraih untung.
Sama seperti Aminah, Juraidah pedagang pasar terapung mengakubanyak dapat untung. Dia berdagang wadai Banjar dan buah asli dari kampungnya.
“Tak hanya itu, kita juga ikut bangga karena dengan ikut berjualan di festival ini juga memperkenalkan Lok Baintan sebagai salah satu daerah yang pasar terapung masih asli,” jelasnya.
Meskipun mentari bersinar terik, ratusan jukung yang ditumpangi para pedagang memakai tanggui atau caping lebar khas Kalsel tetap tak beranjak.
Dagangan yang dijual mulai dari buah-buahan seperti pisang, nenas dan jeruk hingga tanaman cabe dalam pot ditata dengan indahnya dalam jukung. Tak sabar para pembeli yang telah menunggu di dermaga pun mulai memesan makanan kesukaannya.
Transaksi dan hiruk pikuk pedagang memang jadi satu nuansa Banjar yang menggoda pengunjung menikmati pesta budaya Festival Budaya Pasar Terapung 2008.
foto-foto lainnya
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar


