Isyarat Presiden

Kasus penyiksaan dengan kekerasan di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, pekan lalu yang mengakibatkan kematian Praja Cliff Muntu, mendapat perhatian khusus dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Ada tiga langkah yang dilakukan presiden untuk menunjukkan kepedulian tersebut.

Pertama, Presiden menginstruksikan Mendagri ad interim Widodo AS untuk membentuk tim investigasi khusus ke kampus pencetak pejabat negara tersebut dengan waktu yang diharapkan tidak terlalu lama namun akurasi datanya sangat valid.

Kedua, Presiden memanggil Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi untuk menghadap ke Istana Negara pada 9 April 2007 guna memberikan laporan rinci tentang sistem pelaksanaan pendidikan di sana. Ketiga, Presiden melakukan komunikasi langsung lewat telepon dengan orangtua Cliff di Manado.

“Kepada keluarga, saya menyatakan ikut prihatin dan belasungkawa atas peristiwa ini,” ujar presiden usai mengikuti doa bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu siang.

Sedangkan untuk langkah pertama dan kedua, Presiden mengaku akan menjadikan hasilnya nanti sebagai landasan untuk mengambil tindakan terhadap institut yang dikelola Depdagri tersebut.

Presiden Yudhoyono, siang itu memang tidak mengisyaratkan akan menutup lembaga pendidikan yang sudah beberapa kali mencuatkan skandal kriminal antarpraja senior dan junior hingga menelan korban sepuluh orang itu. Pernyataan ini sama dengan yang pernah diucapkan wakilnya Yusuf Kalla, yang juga sempat meninjau kampus itu begitu berita menggegerkan Nusantara ini, merebak. Presiden hanya berjanji akan mengambil tindakan yang fundamental.

“Mungkin pengelolaannya perlu di-set-up kembali. Tetapi, terlalu dini bagi saya menyatakan menutup IPDN,” ujarnya seolah paham betul aspirasi banyak kalangan masyarakat yang menunggu satu kata kunci dari mulut orang nomor satu di negeri ini.

Yang namanya isyarat tentu saja belum nyata. Misalnya, yang dimaksud set-up oleh presiden itu bentuknya bagaimana, belum jelas. Namun, kalau mengurai istilah itu maka artinya ‘membetuk kembali’.

Bila memang set-up yang dimaksud presiden sama dengan persepsi umum, itu artinya IPDN akan mengalami perombakan total. Bukan hanya sistem pembinaan dan kurikulumnya yang akan di-set-up, tetapi juga kalangan petugas administrasi, pengajar sampai rektor. Sebab, bila tidak, masyarakat khawatir, akan masih tersisa ‘nafsu hukum rimba’ di kampus itu. Di mana yang kuat diwakili oleh praja senior akan terus memangsa yang lemah yaitu praja junior.

Kalau nafsu mematikan demikian masih mempunyai kesempatan hidup di sana, itu artinya perhatian Presiden Yudhoyono menjadi sia-sia alias percuma. Dan, bila kemudian beberapa tahun ke depan kita masih mendengar kasus kematian akibat pemukulan sadis demikian, itu artinya benar-benar kebijakan seorang presiden terhadap sebuah kampus tak lebih hanya menjadi ‘kicauan burung’ di pagi hari.

Padahal kita tahu, ini untuk kali pertama sebuah skandal kriminal di lembaga pendidikan mendapat perhatian serius dari orang nomor satu dan nomor dua di negeri ini.

Tentu saja, kita berharap tidak akan seperti disebutkan terakhir ini.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s