Manajemen Ilahiah Di Tanbu

Oleh: Syaipul Adhar SE
Presiden GEMAPPAT Tanbu

Manajemen Ilahiah (MI) yang digagas Pemkab Tanah Bumbu (Tanbu), merupakan terobosan baru dalam sistem pemerintahan daerah. Kabupaten yang baru berdiri ini, menerapkan konsep ilahiah berdasarkan ikatan emosional keagamaan dengan semangat otonomi daerah (Otda). Situasi ini akan menjadi barometer pola pemerintahan pusat yang sekarang notabene memisahkan kepentingan negara dan agama.

Siasah (politik) dan Islam akan memberikan paradigma baru dalam proses tata pemerintahan. Standar ilahiah akan menjadi oase tersendiri di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk. Konsep ini akan menjadi perdebatan ilmiah yang hangat. Diharapkan, bisa menjadi solusi dari kerinduan aplikasi nilai ketuhanan dalam kehidupan bernegara. Konsep manajemen yang dibalut nilai ilahiah, menjadi jaminan etos kerja yang profesional dan humanis. Semakin majunya peradaban, justru semakin besar hasrat untuk kembali dan mendekatkan diri kepada nilai keagamaan yang agung. Yang diperlukan adalah apakah nilai ini bisa menjadi kebutuhan riil di masyarakat dan memiliki landasan hukum yang jelas dalam sistem per-UU-an sebuah negara.

Sebagai sesuatu yang baru, tentu saja dibutuhkan perjuangan berat dalam melaksanakannya. Diperlukan analisis yang dalam dan perdebatan panjang. Terlebih dengan tidak adanya acuan baku tentang MI, selain penguatan nilai ilahiah dan ruhiah dalam pandangan kebenaran sebuah nilai agung Agama Islam.

Sebagai sebuah perjuangan, diharapkan konsep MI dapat memberikan semangat perubahan. Semangat ini yang ditangkap Pemkab Tanbu, sebagai daerah otonom mengharuskan pemda mengambil kebijakan sendiri yang mendukung kinerja pemerintahan yang bersih dan profesional guna mendukung Clean and Good Governance.

MI sebagai perpaduan konsep ketuhanan dengan nilai manajemen kontemporer yang baku. merupakan komoditas yang laku dijual di tengah perubahan paradigma dan zaman. Tentu saja diperlukan pemikiran jernih untuk menganalisisnya, tidak sekadar mengekor. MI, sebagai perpaduan konsep manajemen dan nilai ketuhanan. Fungsi manajemen yang mengatur proses perencananan, pengorganisasian, penempatan dan pengontrolan kegiatan organisasi baik perusahaan swasta dan aparatur negara. Memiliki poin tersendiri yang baku sebagai jaminan pelaksanaan Good Corporate Governance.

Konsep ilahiah akan memberikan warna dalam fungsi manajemen standard, spirit dan etos kerja yang tinggi sebagai bentuk ibadah hamba kepada sang Pencipta.

Pembahasan ini sangat menarik di tengah dikotomi negara dan agama. Konsep MI akan terlihat absurd, jika tidak dibarengi action plan yang jelas. Proses MI yang seharusnya mengeluarkan output manusia baru yang cerdas, profesional dan bersih, justru menjadi bumerang dan tidak mengakar dalam kerja. Profesionalitas dan kesalehan sosial seharusnya menjadi result oriented.

Di bagian lain, diskrepansi yang tajam antara nilai ilahiah yang seharusnya menjadi acuan totalitas kehidupan muslim apa pun posisi dan kedudukan mereka dengan sistem kenegaraan yang berlaku. Berkaitan dengan konsep MI, secara spesifik harus dapat mengungkap: Seberapa besar tuntutan dan kebutuhan publik terhadap konsep MI (demand-driven); Bentuk kebijakan, sasaran dan arah aplikasi konsep MI; Kriteria keberhasilan (result-oriented); Jika tidak ada kriteria keberhasilan atau tidak tepat, maka akan dibuatkan kriteria keberhasilan yang bisa dijadikan alat keberhasilan.

Sayangnya, konsep MI tidak mempunyai standar mutu tertentu dalam mendongkrak profesionalitas kerja dan menilai keberhasilan individu. Ada beberapa faktor penghambat MI. Antara lain: Tidak ada contoh langsung proses aplikasi MI di daerah lain; Fungsi reward and punishment MI, kadang-kadang kontra produktif dengan nilai reward and punishment ketatanegaraan yang baku; Tidak adanya payung hukum yang jelas terhadap pelaksanaan MI di Tanbu. Dibandingkan dengan Aceh (NAD), menerapkan Syariat Islam melalui UU Khusus (qanun) dan membentuk Lembaga Khusus Syariah. Atau Kabupaten Banjar yang menerapkan Perda Khatam Alquran.

MI masih sangat perlu dilakukan pembenahan, karena sifatnya yang cair dan tidak adanya gambaran aplikasi serupa di daerah lain. Diharapkan MI dapat menghasilkan kesalehan sosial di masyarakat. Bukan sekadar uniform keseharian, tetapi terpatri dalam etos kerja dan profesionalitas.

e-mail: unda_ekonom@yahoo.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s