Emosi Damai Suportivitas

EMOSI tidak mengenal tempat dan waktu. Apabila tak bisa dikendalikan, kapan dan di mana pun dapat membuat seseorang melakukan tindakan di luar nalar. Pun di dunia olahraga. Meski kadang-kadang emosi diperlukan untuk meningkatkan adrenalin, tapi kalau salah tempat malah bisa membuat celaka.

Di Indonesia, sering kita lihat emosi olahragawan salah penempatan. Akibatnya, sikap sportif yang seharusnya dijunjung tinggi, rusak karena atlet salah mencari alternatif penyaluran amarahnya.

Hal ini merambah pula ke sepakbola, sebagai salah satu cabang olahraga paling favorit di Indonesia hingga dunia. Yang menyedihkan, emosi tak terkendali membuat pemain berkelahi dengan lawan tandingnya, bahkan terhadap wasit yang menjadi penetralisasi pertandingan.

Perkelahian di lapangan sepakbola makin diperparah dengan keterlibatan emosi penonton, yang seharusnya hanya bertugas memberi support bagi tim kesayangannya.

Sebagai fans tim yang bertanding, kehadiran suporter memang sangat diperlukan. Dukungan penonton, membuat semangat tim yang bertanding akan semakin meningkat.

Hal ini diakui oleh beberapa pelatih sepakbola, kalau mereka menggelar pertandingan kandang, bermain di depan publik sendiri, banyaknya penonton yang mendukung mereka seperti menjadi pemain ke-13 bagi tuan rumah.

Dukungan yang diinginkan tentu bersifat positif, agar tim bisa menang dengan terhormat. Bukan malah mengintimidasi tim lawan, agar memberikan kemenangan bagi tuan rumah.

Yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Saat tuan rumah mengalami kekalahan, suporter langsung melakukan intimidasi dan melimpahkan emosinya dengan melakukan pengrusakan.

Hal serupa juga telah merambah persepakbolaan Eropa. Negara yang dianggap memiliki suportivitas terbaik di dunia, mulai dinodai oleh aksi anarkis penonton dan pemain sepakbolanya.

Awal tahun ini, aksi anarkis penonton melanda persepakbolaan Italia. Menyebabkan nyawa seorang perwira polisi setempat melayang. Ini membuat otoritas persepakbolaan setempat (FIGC) memerintahkan agar sistem keamanan di tiap stadion diperiksa ulang.

Hasilnya, beberapa stadion yang menjadi markas klub besar terkena imbas harus melakukan pertandingan tanpa kehadiran penonton, kecuali mereka bisa memenuhi standar keamanan yang ditetapkan.

Baru selesai kasus keamanan stadion, pekan lalu, perkelahian antara suporter versus polisi kembali terjadi. Kali ini melibatkan polisi Italia dengan pendukung klub Inggris, Manchester United, di laga tingkat Eropa, Liga Champions.

Berselang satu hari, perkelahian serupa juga terjadi antara polisi Spanyol dengan pendukung klub Inggris lainnya, Tottenham Hotspurs.

Mulai sulitnya mengendalikan pendukung sepakbola, membuat prihatin otoritas persepakbolaan Eropa (UEFA). Mereka pun berencana membentuk satuan unit polisi keamanan, guna mengamankan stadion dari aksi anarkis suporter.

Tujuannya, jelas untuk membungkam aksi kekerasan di persepakbolaan Eropa. Paling tidak inilah harapan Michel Platini, Presiden UEFA yang baru terpilih beberapa bulan lalu.

Ide ini sepertinya patut ditiru PSSI, untuk menekan aksi anarkis suporter sepakbola di Indonesia. Paling tidak, harapan bisa menampilkan fair play dan sportivitas dalam berolahraga bisa terwujud.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s