Tersangka Baru Bukan Jenderal

Tersangka baru kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir ternyata bukan seorang jenderal seperti yang disebut-sebut berbagai pihak selama ini. Tersangka barunya hanya bekas Dirut PT Garuda YS dan R, Vice President Corporate Security PT Garuda Indonesia.

Dua tersangka tersebut pun juga tidak terkait dengan dua jenis racun arsenik yang ditemukan di tubuh Munir, tapi terkait pemalsuan dokumen terbang.

“Dua tersangka tersebut adalah atasan dari Pollycarpus dalam kaitan pemberian dokumen terbang palsu kepada Pollycarpus dari Cengkareng menuju Bandara Changi, Singapura,” kata Kepala Polri Jenderal Sutanto, di Jakarta, Selasa (10/4).

Siapa yang sebenarnya meracuni Munir? Sutanto mengatakan, “Masih dalam penyelidikan.”

Jenderal polisi bintang empat ini mengungkapkan, hasil Puslabfor Mabes Polri dibantu tim investigasi dari FBI, menemukan dua jenis racun arsenik di tubuh Munir, yaitu jenis 3 dan 5. Yang paling berbahaya adalah arsenik jenis 5, yang bisa mematikan dalam jangka waktu 1-1,5 jam.

Ya, begitulah. Tersangka dari luar Garuda, masih bisa berkembang. Kami lakukan penyidikan secara bertahap,” ujarnya.

Munir ditemukan tewas di atas pesawat Garuda nomor penerbangan GA 974, Senin 7 September 2004, yang terbang dari Jakarta menuju Amsterdam. Hasil otopsi ahli forensik Belanda pada 13 Oktober 2004 menyebutkan, Munir meninggal karena dalam lambungnya terdapat racun arsenik dalam jumlah besar.

Menurut politikus PDIP Permadi, penetapan dua tersangka baru tersebut menunjukan Polri tidak punya niatan serius untuk mengusut tuntas kasus kematian aktivis asal Malang itu.

“Tersangka baru ini sepertinya coba-coba saja dengan maksud mengulur waktu. Karena saya menilai Polri juga tidak sungguh-sungguh dan profesional dalam upaya penanganan kasus ini, jadi saya benar-benar tidak yakin jika hal ini akan mengungkap kebenaran dalam kasus terbunuhnya Munir,” ucap Permadi.

Permadi yakin, proses sidangnya sama seperti Pollycarpus, petugas keamanan pesawat Garuda sebagai tersangka pembunuh. Pollycarpus bisa melenggang bebas, karena tidak terbukti sebagai pembunuh Munir.

“Jika dua tersangka baru ini tidak didukung dengan bukti-bukti yang kuat, sudah pasti keduanya akan mengikuti jejak Pollycarpus, yakni bebas,” ujarnya.

Permadi mengatakan, Polri seharusnya sudah bisa bertindak lebih dalam upaya pengungkapan kebenaran kasus ini. Seperti mengotopsi ulang jenazah Munir. Harus ada otopsi ulang, kita nggak boleh percaya secara langsung dengan dokter asing,” ucapnya.

Polisi juga harus mengungkapkan kemungkinan adanya konspirasi-konpirasi yang terjadi antara Pollycarpus dengan Kepala BIN karena keduanya sempat melakukan pembicaraan via telepon dengan intensitas yang cukup sering.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s