Saatnya Belajar Dari Bencana (Refleksi Menyongsong Hari Bumi 2007)

Aspek lingkungan, sebenarnya memegang peranan penting dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Oleh: Alip Winarto SHut MSi
Staf Badan Diklat Daerah Kalsel

umi merupakan habitat semua makhluk hidup, semakin lama semakin berat bebannya. Kebutuhan manusia yang semakin banyak dan beragam yang antara lain hanya bisa dipenuhi melalui pemanfaatan sumber daya alam (SDA), menyebabkan bumi sebagai tempat berpijak seolah semakin sempit. Pemanfaatan SDA di permukaan maupun di perut bumi yang kurang bijak, menyebabkan terjadi perubahan yang mengarah pada kerusakan. Padahal semestinya manusia berkewajiban mengelola SDA yang ada di bumi, agar bermanfaat untuk semua makhluk hidup dalam jangka waktu panjang.
Saat ini perilaku arif manusia dalam mengubah dan mewujudkan kualitas bumi agar menjadi lebih baik, adalah sebuah keharusan. Oleh karena itu diperlukan kebersamaan untuk mewujudkan perubahan tersebut. Salah satu bentuk kebersamaan itu adalah ditetapkannya Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April. Momentum Hari Bumi ini, seluruh bangsa di dunia diharapkan menyadari kondisi bumi semakin memprihatinkan. Beban yang harus ditanggung bumi sebagai habitat semua makhluk hidup, semakin berat.
Pertumbuhan ekonomi memang menjadi sasaran utama pembangunan. Namun, faktor ini tidak cukup sebagai dasar pengambilan kebijakan pengelolaan SDA. Aspek lingkungan, sebenarnya memegang peranan penting dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Di sektor kehutanan misalnya, karena alasan peningkatan devisa negara, peningkatan pendapatan daerah, penyediaan lapangan kerja atau peningkatan pendapatan masyarakat lokal sering dijadikan dalih pembenaran aktivitas eksploitasi hutan atau alih fungsi kawasan hutan untuk kegiatan ekonomi lainnya.
Kerusakan hutan sebenarnya tidak hanya menjatuhkan aktivitas nilai ekonomi hutan. Lebih jauh dari itu, menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana lingkungan yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap kerusakan infrastruktur sosial dan ekonomi masyarakat. Sudah cukup banyak anggaran yang dialokasikan pemerintah akibat terjadinya bencana lingkungan semacam banjir, tanah longsor, teror asap maupun kekeringan di tengah kondisi perekonomian yang belum pulih pascakrisis. Sementara kawasan hutan yang tersisa, terus saja terdegradasi kualitas dan kuantitasnya. Tidak sebanding dengan laju keberhasilan rehabilitasi kawasan hutan.
Sayangnya, fenomena itu belum cukup menyadarkan kita untuk lebih ramah kepada bumi. Bisa jadi gempa bumi dan tsunami, juga merupakan peringatan Yang Kuasa atas ketidaksadaran dan ketertutupan hati kita pada berbagai pelajaran yang seharusnya diambil dari fenomena alam. Memang kesadaran muncul sesaat setelah bencana lingkungan terjadi, tetapi masih bersifat parsial dan temporal.
Dalam pengelolaan SDA sering terjadi pertentangan antara kelompok yang menganut paham antroposentris dan ekosentris.
Kedua paham ini sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan, sehingga lebih pas kalau terjadi perpaduan di antara keduanya. Di sektor kehutanan, pengelolaan taman nasional merupakan salah satu contoh bentuk perpaduan dari kedua paham ini. Taman nasional dikembangkan menjadi beberapa zona. Zona inti, tidak boleh dijamah sama sekali (full conservation). Zona rimba untuk penyelidikan, buffer zone sebagai kawasan penyangga dan zona pemanfaatan dapat dilakukan pemanfaatan ekonomi secara terbatas. Konsep pengelolaan taman nasional seperti ini mestinya juga dapat diadopsi untuk model pengelolaan SDA yang lain. Dengan perpaduan ini diharapkan pembangunan tetap berjalan tetapi kerusakan lingkungan dapat ditekan pada nadir.
Pada Hari Bumi ini, saatnya kita memetik hikmah dari berbagai bencana yang terjadi. Keramahan manusia kepada bumi paling tidak dapat mengurangi dampak bencana lingkungan yang lebih parah. Upaya menyelamatkan bumi harus disadari sebagai tanggung jawab bersama. Jangan sampai Yang Kuasa kembali menyadarkan manusia dengan bencana lainnya. Wallahu alam bi shawab.

e-mail : alip_winarto@yahoo.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s