Horor Di Kampus Jatinangor

Oleh: Paulke M Potu
Sekjen GEMAPPAT

Pengalaman adalah guru yang baik. Begitu kebanyakan orang berkata. Namun istilah itu tidak berlaku bagi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), hasil leburan/penyatuan dua lembaga pendidikan yaitu Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP). Sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak aparatur pemerintah ini memang lebih eksklusif, dibanding lembaga pendidikan negeri lainnya. Karena, lembaga pendidikan di bawah Depdagri ini memiliki fasilitas yang lebih seperti adanya asrama (putra, putri), pendidikan gratis dan langsung menjadi pegawai negeri di daerah asal masing-masing.

Dari segi perekrutan juga sangat berbeda, yang menurut saya justru cenderung diskriminatif. Calon mahasiswa (praja) yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun tidak memiliki postur tubuh ideal, tidak usah bermimpi untuk bisa bergabung di lembaga pendidikan itu. Kalau berhasil masuk ke dalamnya sebagai mahasiswa, harus siap ‘dipelonco’ senior dengan berbagai alasan penindakan. Misalnya, karena junior terlambat, tidak hormat kepada senior, melatih tanggung jawab serta dalam upaya ‘pembinaan’ dan penegakan disiplin. Junior yang dianggap bersalah itu, harus rela menjadi sandsack hidup bagi senior yang katanya ingin menegakkan disiplin. Namun kenyataannya menjadi tindakan pembinaan yang salah kaprah/kebablasan, karena bukan lagi membina tetapi membinasakan. Sangat mengerikan. Sungguh sangat jauh dari tujuan yang diharapkan, yaitu dapat mengabdi kepada bangsa dan negara dengan sebaik- baiknya.

Bukan hanya reformasi tetapi revolusi sistem yang harus segera dilakukan oleh lembaga (institut) ini secara menyeluruh. Perubahan yang dilakukan tidak cukup dengan hanya mengganti nama (dari STPDN menjadi IPDN), tetapi sistem yang diterapkan masih sama. Atau diubah sedikit dan tidak menyentuh masalah substansi yang menjadi akar permasalahan dan tuntutan masyarakat selama ini khususnya yang berkenaan dengan tindakan kekerasan, supaya tidak ada lagi horor di Kampus Jatinangor.

Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kontra produktif di pemerintahan saat ini, yaitu di satu pihak pemerintah ingin memerangi kekerasan/kejahatan. Namun di pihak lain, lembaga (institut) tempat didiknya calon pejabat sipil ini sangat kental dengan kekerasan. Walaupun, tidak semua kekerasan itu berujung tidak baik. Tetapi, bagaimana menerapkan kekerasan dengan tujuan pembelajaran atau semacam shock therapy agar yang melakukan pelaku tidak mengulangi lagi di kemudian hari.

Akademi Militer (Akmil) saja yang memang untuk membentuk/mencetak prajurit siap tempur, dalam proses pendidikannya tidak sampai memakan korban jiwa. Padahal di akademi tersebut juga sangat kental dengan senioritasnya. Justru di sekolah yang katanya tempat calon pemimpin sipil di masa depan banyak korban berjatuhan. Ada apa sebenarnya dengan IPDN? Dalam 10 tahun terakhir, tiga praja menjadi korban dan yang lebih aneh semuanya diakibatkan penganiyayaan senior terhadap junior. Pepatah ‘hanya keledai bodoh jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali’ ,sepertinya tidak berlaku di kampus ini. Sebab, Cliff Muntu, praja dari Sulawesi Utara ini menambah daftar panjang korban tewas akibat kekerasaan di lembaga (institut) terhormat tersebut.

Pascaperistiwa ini, berkembang beberapa persepsi dan opini di masyarakat. Dari yang lunak sampai keras, mengubah pola pengasuhan di barak, peninjauan ulang tentang sistem yang diterapkan sampai pendapat yang lebih ekstrem yaitu dengan melakukan pembekuan lembaga (institut) tersebut.

Menurut saya, sekarang memang sangat diperlukan kajian ulang secara komprehensif tentang sistem yang berlaku di kampus tersebut. Dari sistem penerimaan/perekrutan calon mahasiswa, sistem belajar mengajar (hubungan antara dosen dan mahasiswa), kegiatan ekstra kurikuler, kewajiban dan hubungan antara senior dan junior, sampai perlu tidaknya praja dirumahkan atau berada dalam asrama. Hal ini sangat mempengaruhi psikologis praja yang sebelumnya bisa menghirup udara bebas, ketika berada di IPDN mereka harus berada dalam satu lingkungan yang menerapkan sistem senioritas dan militerisnya. Padahal, lembaga tersebut untuk membentuk pelayan masyarakat yang berkualitas (disiplin, bertanggung jawab, tidak semena-mena kepada bawahan/junior), bukan ahli dalam hal smackdown.

Sebuah kebijakan telah diambil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni membekukan sementara IPDN dengan tidak membuka penerimaan praja pada 2007 agar lembaga ini lebih terfokus dalam melakukan perubahan yang radikal. Namun akan lebih bagus jika penerimaan praja dibuka setelah semua praja yang ada sekarang, keluar/lulus dari IPDN sehingga pada saatnya nanti IPDN akan memulai babak baru dalam melaksanakan kegiatannya. Atau ada hal yang lebih radikal, yaitu membubarkan IPDN dan mengaktifkan kembali APDN. Hal ini sesuai dengan semangat otonomi daerah yang menerapkan sistem pemerintahan desentralistik.

Selama mengikuti pendidikan, praja lebih diarahkan bagaimana menjadi pelayan publik yang baik, ramah, sopan. Paling penting, bisa menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sistem birokrasi yang terkesan semrawut (kompleks) di bangsa ini. Dan, bagaimana menghadapi masyarakat yang multikarakter, belajar menemukan sebuah pemecahan masalah (problem solving) dengan cepat tanpa merugikan salah satu pihak.

Tidak seperti sekarang, seolah-olah aturan yang berlaku hanya ada dua, yaitu: senior tidak pernah salah; apabila senior salah maka lihat kembali aturan pertama. Kalau seperti ini, lalu apa bedanya praja dan preman? Semoga tidak akan ada lagi Cliff Muntu selanjutnya..

e-mail: sekjen_gemappat@yahoo.co.id


Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s