Menjaring Kewaspadaan Banua

Oleh: Noor Hana Tajuddin
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir Al-Azhar Mesir (Warga Barabai)

Tanah airku tumpah darahku
Tanah yang subur
Kaya makmur

Penggalan bait lagu Rayuan Pulau Kelapa ini, menggambarkan bahwa betapa indahnya alam Indonesia. Dengan melimpah ruahnya kekayaan Bumi Pertiwi, baik dari segi kebutuhan pangan, sandang dan papan sudah tidak diragukan lagi bahwa kita memang memiliki negeri yang kaya raya. Dahulu, sebagaimana yang dituturkan nenek moyang, kita mendengar istilah yang menggambarkan kehebatan dan kesuburan negeri kita, seperti ‘untaian zamrud khatulistiwa’, ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’.

Sekarang sangat disayangkan, seiring berjalannya putaran waktu, sumber daya manusia malah semakin berkurang, dan akhirnya kita sebagai anak negeri tidak bisa menjadi pemain utama lagi dalam mengelola sumber daya alam Indonesia. Entah disadari atau tidak, kita telah memubazirkan, menelantarkan kekayaan negeri ini dan menyerahkan kepada bangsa lain.

Dalam dua tahun terakhir ini, bangsa Indonesia mengalami goncangan lahir batin yang hebat. Dimulai 2004 bencana tsunami di Nanggro Aceh Darussalam yang menjadi perhatian dan keprihatinan internasional. Disusul tanah longsor di Jawa Barat, banjir di ibukota Jakarta, kebakaran hutan, gempa di Irian, Maluku, Jogjakarta dan terakhir di Sumatera Barat, sampai pada bencana yang berpangkal dari ulah manusia seperti semburan lumpur Lapindo dan kecelakaan transportasi darat, laut dan udara.

Berkaca dari beberapa peristiwa, yang membuat mata dan hati kita tak bisa tertidur lelap, itu adakah terbersit di pikiran kita sampai dimana kita bisa memupuk kesadaran sebagai warga masyarakat yang ‘beruntung’ tidak mengalami musibah besar tersebut? Bersyukur kepada Allah SWT memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai hambaNya, tapi masih ada usaha yang harus dilakukan agar kita tidak terlena dengan nikmat yang telah diturunkanNya kepada kita.

Dalam hal ini kewaspadaan atau sifat kehati-hatian adalah salah satu solusi yang harus kita galakkan bersama.

Kalsel tidak kalah dari segi pembangunan, pertanian, perindustrian, pariwisata dan hasil buminya, yang merupakan kekayaan tiada duanya. Tapi semuanya itu akan sirna dengan sekejap apabila kita tidak bisa mengelolanya sesuai aturan main yang telah ditentukan. Hal ini perlu dicermati secara seksama, karena setelah terjadinya berbagai peristiwa bencana di beberapa daerah, bermunculan arus pemikiran tentang ‘makna’ atau ‘istilah’ dari bencana tersebut.

Ada pendapat kalau bencana ini diturunkan oleh Yang Maha Kuasa akibat ulah manusia itu sendiri, yang sering berbuat kerusakan di muka bumi. Misalnya;

Pertama, ketidaksesuaian antara kemampuan dan tanggung jawab yang dipikul sebagai pemimpin bangsa. Akhirnya timbul lah beberapa ketimpangan dalam sepak terjang kepemimpinannya. Seperti, ketidakpedulian para para politisi, pemimpin, hakim dan penegak hukum yang seringkali kita saksikan, bahkan dengan seenaknya memperlakukan rakyat kecil sebagai korban politik dan ketidakadilan tanpa ada yang mampu melindungi mereka. Dan ini adalah fenomena riil yang terjadi pada bangsa kita.

Kedua, kering dan mundurnya mutu pendidikan agama di setiap jenjang pendidikan. Inipun berimplikasi pada kehidupan sehari-hari, seperti dalam kasus yang kita temui di berbagai media cetak dan elektronik tentang mewabahnya tindakan amoral anak usia sekolah yang seharusnya belajar atau kuliah. Malah yang terjadi adalah sebaliknya, pesta narkoba, bercumbu ria tanpa hubungan yang sah, dan tindakan lainnya yang berbau kemaksiatan. Nah apa yang terjadi kalau para generasi penerus bangsa dan aset negara ini ternyata mereka lah sebagai penyebab kemunduran bangsanya sendiri?

Pendidikan agama merupakan benteng kehidupan kita, baik itu di dunia maupun diakhirat kelak. Oleh karena itu mempertahankan tetap diberlakukannya pendidikan agama di setiap jenjang pendidikan adalah kewajiban kita bersama. Karena moralitas bangsa ada di tangan generasinya yang siap pakai dan bertanggung jawab.

Ketiga, ulah tangan-tangan nakal yang merusak lingkungan seperti penebangan yang menyebabkan banjir dan bencana lainnya. Dan hal inipun sejak zaman dahulu, sebagaimana disinggung dalam Alquran yang artinya ‘Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mareka sebahagian dari (akibat) perbuatan mareka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)’ (QS Ar-Rum ayat 40).

 

Nah, berkaca dari uraian tersebut, seyogyanya kita yang benar-benar menginginkan kesejahteraan dan ketenangan hidup maka keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrowi harus diperhatikan. Karena semua lika-liku kehidupan tidak pernah lepas dari dua kepentingan tersebut. Dan semoga kita sebagai warga banua mampu berperan, bersama-sama selalu waspada dan mawasdiri dalam kehidupan sehari-hari. Semoga.

e-mail:hannadya@yahoo.com


1 Komentar

  1. bagus nih, salam kenal aja ya


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s