Malu Minta Maaf

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono di depan sejumlah gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota di Istana Merdeka, Jakarta, mengaku malu jika harus meminta maaf lagi kepada negara tetangga lantaran telah ‘mengirim’ kabut asap.

Pernyataan orang nomor satu di Republik Indonesia itu, sebagaimana dikutip Wakil Gubernur Kalimantan Selatan HM Rosehan Noor Bahri yang mewakili Gubernur Rudy Ariffin menghadiri acara, yang sekaligus memberikan mandat kepada sejumlah kepala daerah sebagai koordinator penanganan kebakaran lahan dan hutan.

Apa yang dikemukakan Presiden tentu saja bukan lelucon, atau sekadar basa-basi. Bisa jadi ucapan itu adalah sebuah kalimat peringatan bagi kepala daerah, terutama yang wilayahnya paling sering dan parah dilanda bencana kabut asap.

Kabut asap yang terjadi setiap kemarau panjang, bisa disebabkan kebakaran lahan akibat pemanasan permukaan bumi yang sangat tinggi, atau gesekan ranting pohon yang menimbulkan panas hingga memercikan api. Namun bisa juga diakibatkan perbuatan sengaja manusia yang membuka lahan.

Berkaitan pembukaan lahan, selalu saja petani yang dipersalahkan, khususnya peladang berpindah. Keluguan mereka seakan menjadi sasaran empuk bagi kelompok tertentu untuk ‘lempar batu sembunyi tangan’. Padahal, aktivitas membakar ilalang untuk membuka lahan berladang sudah dilakukan turun-temurun, sejak nenek moyang mereka. Namun mengapa baru sekarang muncul bencana kabut asap?

Berkali-kali aktivis lingkungan menyuarakan rintihan para peladang berpindah yang sebagian besar adalah penduduk asli seperti Suku Dayak di Kalimantan, bahwa pembakaran lahan mereka lakukan sangat arif dan memperhatikan keseimbangan lingkungan. Tetapi selalu saja semua itu dianggap angin lalu.

Mereka tetap dipersalahkan, dan selalu dipersalahkan. Bahkan, ketika kabupaten-kabupaten membuat peraturan daerah (Perda) tentang Pembakaran Lahan, yang memuat sanksi bagi pelakunya, seakan meminggirkan kepentingan penduduk asli yang mata pencaharian mereka semata-mata dari berladang.

Pemerintah daerah sepertinya panik dan latah, sehingga ketika negara tetangga protes atas kiriman kabut asap dan pemerintah pusat sibuk memberikan penjelasan dan mengumbar maaf, mereka membabi-buta ingin menerapkan aturan (Perda) melarang membakar lahan tanpa pandang bulu. Tanpa melihat dan mempertimbangkan keberadaan rakyat kecil di pedalaman yang tak mengerti bahwa pekerjaan sebagai peladang berpindah yang menjadi ‘piring nasi’ keluarganya justru akan menjadi ‘harimau’ yang akan menerkam mereka.

Aturan yang dibuat itu tentu saja bagus dan menjadi satu alat mencegah terjadinya bencana kabut asap. Namun alangkah bijaknya jika penerapannya lebih selektif. Karena ancaman lebih besar sebenarnya berasal dari pemilik perkebunan besar yang mengambil kesempatan ikut-ikutan membakar lahan mereka bersamaan pada saat menjelang musim tanam di mana para petani membakar lahan.

Dengan demikian tersamar, sehingga ada kesan yang melakukan pembakaran lahan adalah petani. Padahal pengusaha itu ingin enak dan murah maka mereka melakukan pembersihan lahan dengan cara seperti itu. Herannya, ketika heboh bencana kabut asap berlalu, pengusaha perkebunan besar yang sudah terendus melakukan pembakaran lahan, juga tak jelas lagi kasusnya. Hilang bersama lenyapnya kabut asap.

Apa yang disampaikan Presiden semestinya mampu membuat merah telinga para kepala daerah di negara ini. Jangan sampai ketika bencana kabut asap sudah datang baru mereka panik. Padahal setidaknya ada waktu setahun untuk memikirkannya agar bencana itu tak terulang.

Keinginan Presiden agar tak lagi minta maaf kepada negara tetangga lantaran menerima kiriman kabut asap dari Indonesia itu, mestinya juga bukan menjadi alasan bagi kepala daerah untuk mencari kambing hitam, yakni penduduk asli yang bermatapencaharian sebagai petani dan peladang berpindah. Karena, rakyat pun tahu bahwa ada perkebunan besar yang ikut membakar lahan. Cuma apakah para kepala daerah itu tahu, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau sengaja tidak mau tahu? Hingga tanpa malu-malu menuding rakyat kecil sebagai penyebab.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s