Pohon untuk Biaya Kuliah

Oleh : Hamdani Fauzi
Dosen Fakultas Kehutanan Unlam

“Orang miskin dilarang sekolah” dan “Mau pintar koq mahal?” demikian tulisan yang terdapat di suatu spanduk ketika mengemuka isu tingginya biaya yang harus dikeluarkan kocek guna mendapat pendidikan yang layak dan berkualitas. Hal ini diperparah dengan akan diberlakukannya kebijakan Pem-BHP-an Perguruan Tinggi yang mengharuskan pengelolaan sumber-sumber keuangan secara mandiri, sehingga tidak heran ada beberapa lembaga PT yang menaikkan biaya SPP.

Menanam Pepohonan

Mengingat begitu besarnya biaya pendidikan yang bagi sebagian besar orang sering kali dihadapkan pada keterbatasan dana, maka penulis berpikir mengapa tidak sebaiknya pihak lembaga pendidikan bersangkutan berusaha �memotong� cost-cost yang bisa diminimalkan atau mencari alternatif tambahan dana dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia.

Kalau kita perhatikan di sekitar Kampus Unlam masih banyak lahan tidur yang dibiarkan tidak produktif dan kalaupun dijadikan tempat praktek atau penelitian mahasiswa sifatnya masih temporer. Saya pikir lahan kurang produktif tersebut sangat potensial ditanami dengan pepohonan cepat tumbuh (fast growing species) dan pohon multiguna yang bisa dikombinasikan dengan aneka budidaya pertanian melalui teknologi agroforestri yang diatur sedemikian rupa sehingga manfaat ekonomis, ekologis, edukasi dan estetika kampus tetap terpelihara. Tanaman cepat tumbuh tersebut diperkirakan ada yang dapat berproduksi dengan daur finansial dan daur teknis tujuh hingga delapan tahun artinya pada umur tersebut kayunya sudah bisa diperdagangkan. Asal dilakukan sistem silvikultur dan metode pengaturan hasil yang tepat dengan menggunakan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya secara lestari, maka program pembangunan hutan dikampus layak untuk dikembangkan.

Hasil analisis finansial sederhana yang saya lakukan menunjukkan usaha pembudidayaan tananan sengon (Paraserianthes falcataria) mempunyai BCR sebesar 2,29 dan IRR 24,17 persen yang memungkinkan pengembangan jenis ini kedepannya. Demikian pula Gaharu (Aquilaria spp) dengan daur 10 tahun mempunyai B/C ratio 20,6 dan nilai ROI (Return of investment) sebesar 1.960 persen artinya usaha ini layak dengan modal Rp 100 akan diperoleh laba usaha Rp 1.960. Penelitian Sumarna (2004) memperlihatkan margin keuntungan yang didapat dari usaha Gaharu seluas 1 ha sebesar Rp 2.597.500.000. Apabila diasumsikan besarnya SPP per semester Rp 620.000, maka dengan dana tersebut dapat meng-gratiskan 418 mahasiswa hingga tahun kelima.

Sebetulnya biaya produksi masih bisa dikurangi dengan memberdayakan civitas akademika dalam kegiatan pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Pihak rektorat dapat membuat kebijakan gerakan gemar menanam pohon dalam setiap even di kampus, misalnya pada saat Dies Natalis, Program Persiapan Belajar (P2B) mahasiswa baru, praktek lapang, peringatan hari lingkungan hidup, Hari Pendidikan dan Hari wisuda. Bagi mahasiswa baru dari fakultas manapun diwajibkan menanam pohon dan memeliharanya hingga dia wisuda. Apabila diasumsikan jenis yang ditanam mempunyai daur 8 tahun dan masa studi 5 tahun, maka pada masa angkatan berikutnya sudah bisa berproduksi.

Hubungan baik yang dibina selama ini dengan berbagai stakeholders terkait memungkinan ada beberapa komponen pembiayaan yang bisa dikurangi atau bahkan dihapuskan. Misalnya untuk pengadaan bibit bisa bekerjasama dengan pihak Balai Perbenihan dan Tanaman Hutan Kalimantan atau perusahaan pembibitan. Sementara untuk pemasaran hasil memang harus memiliki ijin pemanfaatan hasil hutan, namun saya pikir hal ini bukan menjadi kendala berarti, karena kayu rakyat saja bisa dengan mudah mendapatkan ijin pemasarannya. Lagi pula pesatnya kemajuan Ipteks di bidang kehutanan memungkinkan semua jenis kayu saat ini bersifat komersiil.

Di samping itu kalau kampus dan sekitarnya sudah hijau oleh rimbunnya pepohonan maka biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaan dan pemakaian AC di hampir setiap ruangan di kampus UNLAM bisa dikurangi karena tanpa AC pun ruangan akan tetap terasa sejuk dan segar. Sekedar mengingatkan daun tumbuhan berwarna hijau seluas satu hektare dapat menyerap delapan kilogram CO2 yang equifalen dengan CO2 yang dihembuskan oleh manusia sekitar 200 orang setiap jamnya secara bersamaan dan sebatang pohon dapat mendinginkan ruangan setara dengan tiga unit AC berkapasitas 2.500 kcal/jam.

Pendapatan yang diperoleh dari �jualan hasil hutan� tersebut dapat digunakan untuk berbagai kepentingan pendidikan seperti pengadaan sarana prasarana, tambahan insentif staf dan yang terpenting mensubsidi biaya kuliah mahasiswa yang kurang mampu dengan catatan dia berprestasi dan aktif memajukan kampus. Pengalaman seorang petani hutan di Jawa yang mampu membiayai lima orang anaknya sekolah hingga tamat perguruan tinggi hanya dari hutan rakyat membuktikan bahwa usaha kehutanan feasible untuk dikembangkan, bahkan kalau semua perguruan tinggi di Kalsel beramai-ramai menghijaukan kampusnya tentu akan berdampak positif meminimalkan pemanasan iklim global yang berpotensi meningkatnya bencana lingkungan.

1 Komentar

  1. saya sangat setuju dengan pendapat anda, bayangkan saja seandainya semua perguruan tinggi, bahkan sekolah memiliki taman yang luas,rindang,dan hijau. tentu saja jika ada orang yang pergi ke kalimantan selatan, tidak perlu pergi ke pedalaman kalau sekedar ingin mencari udara segar. toh, ditengah kota juga ada “hutan pribadi” milik lembaga-lembaga pendidikan dalam kota. Serasa “back to nature” banget ya!. Untuk sekedar informasi saja, di LA dan Washington D.C. sekarang ini telah ditanam pohon-pohon besar.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s