Heroisme sang Pemimpin

HARI ini seluruh Bangsa Indonesia menundukkan kepala, mengheningkan cipta, memperingati jasa pahlawan yang gugur. Tepat 10 November, 62 tahun lalu, Arek Surabaya di bawah komando Bung Tomo mengobarkan semangat perlawanan terhadap tentara sekutu yang mencoba kembali menduduki Indonesia.

Sedikitnya 6.000 jiwa rakyat bangsa ini menjadi korban. Tetapi pengorbanan itu tidak sia-sia. Atas sikap heroisme, mereka bertahan melawan tentara Nica. Walaupun hanya bersenjatakan bambu runcing, akhirnya tentara sekutu gagal menduduki kembali Bumi Nusantara.

Sikap heroisme yang diperlihatkan ribuan arek Surabaya itu, hari ini kita peringati. Mereka berjuang demi membebaskan bangsa ini dari penindasan yang dilakukan penjajah.

Namun, bebaskah sudah Indonesia dari penjajahan? Dari bangsa asing mungkin iya. Tapi nyatanya bangsa ini masih tercabik-cabik oleh penindasan. Ironisnya, sekarang penjajahan itu dilakukan sendiri oleh anak bangsa ini.

Lihat saja di berbagai bidang. Mulai ekonomi, politik, hukum bahkan agama, sudah ada berapa kasus yang membuat kita menjadi terpecah belah, saling sikut, saling menyingkirkan dan saling adu domba. Padahal, trik memecah belah dan adu domba itu biasanya dilakukan oleh bangsa penjajah. Dengan siasat seperti itulah penjajah bisa melanggengkan pendudukan mereka. Tanpa persatuan, bangsa yang dijajah tak mungkin bisa melawan. Tapi sikap ingin berkuasa dan memecah belah penjajah itulah yang kini justru ‘diwarisi’ segelintir anak bangsa ini.

Lihat saja di bidang ekonomi, kita saling ‘makan’. Mereka yang sudah memiliki usaha raksasa, malah menjadi gurita ingin menguasai semua bidang. Sampai-sampai yang mestinya jatah untuk usaha kecil menengah, juga diembat.

Di bidang hukum apalagi. Siapakah yang bisa menjamin, mereka yang mengikrarkan dirinya sebagai penegak hukum apakah itu di lembaga pengadilan, kejaksaan maupun kepolisian memiliki heroisme benar-benar rela membela kebenaran demi membebaskan rakyat yang tertindas oleh ketidakadilan hukum?

Di bidang agama. Indonesia yang dikenal agamis, memiliki kebebasan beragama. Namun dengan penduduk mayoritas muslim, ternyata juga selalu dilanda konflik yang bermuatan beragama. ‘Perang’ yang dilatarbelakangi agama, tak bisa ditutupi. Masih terjadi di beberapa belahan Bumi Indonesia. Belum lagi ‘perang’ antarumat seagama. Contohnya, sempat terjadi ketegangan saat penetapan 1 Syawal 1429 H untuk merayakan Idul Fitri bagi Umat Islam. Sekarang, muncul lagi aliran yang dituding sesat karena bertentangan dengan ajaran agama yang ada di Indonesia. Imbasnya jelas, memecah belah umat.

Dulu, pahlawan adalah seseorang yang berjuang melawan penjajah di medan perang dengan mengangkat senjata, kemudian dia tewas dan dimakamkan di taman makam pahlawan. Di kekinian, sosok heroisme seorang pahlawan tak mesti ditunjukkan dengan mengangkat senjata. Mereka yang berjuang di bidang masing-masing untuk membebaskan rakyat dari ketertindasan, juga bisa disebut pahlawan. Walaupun mungkin atas jasanya itu nantinya tak mendapat tempat di taman makan pahlawan.

Seorang pemimpin, apakah itu presiden, kepala daerah atau pimpinan di lembaga apa pun yang memiliki power untuk bisa membebaskan rakyat dari berbagai ketertindasan, dia juga bisa mendapat kesempatan menjadi pahlawan.

Tapi apa kenyataannya? Seorang kepala negara tiba-tiba terseret dalam kasus korupsi. Seorang kepala daerah mendekam di balik jeruji, juga karena tersandung kasus korupsi. Seorang aparat penegak hukum diajukan ke meja hijau lantaran suap. Politisi saling hujat, hingga membawa-bawa massanya yang menyebabkan terjadi perpecahan.

Padahal, mereka itulah yang seharusnya dengan jiwa heroismenya bisa membebaskan rakyat dari segala ketertindasan.

Namun dengan kenyataan yang ada, justru rakyat akan berpikir merekalah yang telah menjajah rakyatnya? Karena dengan kelakuan seperti itu, membuat rakyat tertindas dan sengsara.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s