Krisis Listrik, Sembilan Cara Menuju Jalan Keluar

Kalaulah memang PLN tidak mampu membeli batu bara sesuai harga pasar karena tidak punya uang, maka sekali lagi peran pemda menjadi penting.

Oleh: Setia Budhi
Pegiat Pemberdayaan Masyarakat DAS Barito

Pada 2004, saya ke Negeri Perak di Semenanjung Malaysia. Di sana ada Urang Banjar yang bekerja sebagai konsultan dan orang sangat penting dalam kerja menyuplai bahan baku pembangkit listrik itu. Saya terkejut bukan main, begitu dikatakan bahwa PLN Malaysia yang lebih dikenal dengan Tenaga Nasional Berhard (TNB) memasok bahan baku batu bara untuk tenaga listrik itu dari Kalimantan Selatan. Tepatnya dari Kabupaten Banjar. Aha … ini benar-benar luar biasa. Negeri dengan sumber alam yang melimpah untuk tenaga listrik, jutru krisis listrik.

Sekarang diperlukan adalah apa dan bagaimana jalan keluar dari krisis listrik itu. Itu sebabnya, untuk sementara saya menyampaikan sembilan cara (menurut perspektif publik opini) yang mungkin dianggap tepat keluar dari lingkaran krisis perlistrikan di banua ini.

Pertama, membangun PLTU di mulut tambang dianggap penting sebagaimana disuarakan anggota DPRD Kalsel. Alasan utamanya, sebagian dari sumber batu bara itu akan digunakan untuk menyuplai keperluan PLTU terdekat.

Kedua, dari beberapa pertemuan dengan calon investor beberapa bulan lalu menyatakan ada prospek untuk membangun PLTU di mulut tambang dengan biaya cukup besar dan komitmen pemerintah daerah.

Ketiga, PLN menyediakan lebih banyak lagi komitmen dalam hal membeli listrik dari PLTU yang baru.

Keempat, lagi-lagi soal PLN yang menjadi keluhan investor karena keterbatasan mereka membeli batu bara dengan harga bersaing.

Di mana rasionya, PLTU Asam-asam dikatakan kehabisan stok batu bara padahal hanya beberapa kilometer dari kawasan PLTU itu masih ada ribuan ton batu bara, kalau bukan pada masalah harga beli batu bara oleh PLN yang lebih rendah dari pasar.

Kalaulah memang PLN tidak mampu membeli batu bara sesuai harga pasar karena tidak punya uang, maka sekali lagi peran pemda menjadi penting.

Kelima, orang awam mungkin dapat membayangkan jika sekiranya 12 kabupaten dan kota di Kalsel membuat kerja sama dengan penyertaan modal atau saham untuk menanggulangi krisis listrik.

Keenam, sebuah surat pembaca di BPost menyarankan kepada Pemprov Kalsel. Surat pembaca itu secara umum mengatakan: daripada habis duit gasan nukar tanah maolah gadung gasan pemindahan kantor ibukota pruvinsi, maka alangkah baiknya apabila anggaran pembebasan tanah, anggaran gedung kantor yang tidak sedikit itu dialihkan untuk menyelesaikan krisis listrik di Banua. Itu saran yang keluar dari pikiran sederhana tapi cerdas.

Ketujuh, memberikan insentif kepada pelaku dunia usaha pertambangan batu bara untuk membangun pembangit listrik minimal di kawasan pertambangan yang ada.

Kedelapan, komitmen pemerintah dengan mencari terobosan bahan bakar terbarukan perlu mendapat dukungan optimal.

Kesembilan, tidak mungkin hanya bergantung kepada PLTU dengan bahan baku batu bara. Maka, pembangunan listrik tenaga hidro dengan memanfaatkan sejumlah air terjun dan arus deras sungai yang ada di Banua Anam sebagai jalan keluar yang penting dan bersahabat dengan alam.

Berhentilah meminta kepada warga untuk melakukan penghematan besar-besaran penggunaan listrik di rumah tangga pada jam-jam puncak.

Berhentilah meminta konsumen untuk memadamkan lampu listriknya pada jam puncak pemakaian, sebab sekiranya kita mau berkunjung ke rumah penduduk dan melihat betapa anak-anak lagi senang membaca cerita dan sejarah dari pelajaran sekolahnya. Di atas kepalanya hanya menggantung satu-satunya lampu listrik dengan kekuatan daya 15 watt. Kalau lampu itu dimatikan atau dikurangi sampai lima watt saja, maka lengkaplah sudah dunia kita. Seperti kembali ke zaman lampau, menjadikan getah keret sebagai alat penerang. Ujar papadah kai di hulu sungai: “Napang tih, diaku ba lampu gatah heja, ada jua gawian mambarasih latat di hidung saban baisukan.”

e-mail; s_budhi@yahoo.com

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s