Bantuan Kemanusiaan untuk Myanmar

BENCANA alam mahadahsyat kini tengah terjadi di negeri penuh misteri, Myanmar. Angin topan yang dikenal dengan topan Nargis melanda negeri itu sejak Sabtu (3/5/2008) lalu.
Angin dengan kecepatan 190.000 kilometer per jam menyapu wilayah barat daya Myanmar, sementara ini diketahui menewaskan 22.000 orang serta 42.000 hilang. Sebanyak 95 persen bangunan hancur. Gelombang laut yang juga naik ikut menyapu wilayah pantai. Transportasi dan komunikasi di negeri itu terputus, banyak orang ditemukan di mana-mana dalam keadaan meninggal atau tergeletak tak berdaya.Tragis dan memilukan, namun yang lebih tragis lagi adalah sikap pemerintah junta militer yang terlambat membuka akses bantuan dari luar, bahkan semula terkesan menutup-nutupi. PBB sudah mengapresiasi permintaan bantuan dari Myanmar dan akan berbuat apa saja untuk kemanusiaan di sana. Amerika Serikat, China, Indonesia dan beberapa negara lain sudah mengirim bantuan.

Namun semua bantuan harus mendapat persetujuan pemerintah junta, sehingga tidak bisa bergerak cepat. Jika sikap pemerintah tidak berubah, dampaknya bisa lebih buruk dari bencana tsunami di Aceh Desember 2004, karena terbatasnya bahan yang ada dan buruknya transportasi.

Myanmar yang berpenduduk lebih 55 juta jiwa semula merupakan negara yang makmur. Namun sejak Jenderal Ne Win tahun 1962 mengambil alih pemerintahan, perekonomian merosot dan kini Myanmar termasuk negara termiskin di Asia. Para jenderal yang silih berganti memerintah dengan tangan besi lebih banyak memikirkan kekuasaan dari pada rakyatnya. Negeri itu menjadi tertutup dan mencurigai pihak asing. Berbagai sikap menentang dari rakyat selalu berakhir dengan kekejaman.

Tahun lalu para biksu yang melakukan protes atas naiknya harga minyak juga ditumpas habis, sebagian yang selamat lari ke Thailand. Biksu di Myanmar adalah orang yang sangat dihormati, namun Than Shwe tidak peduli.

Saat ini Myanmar yang dulu bernama Burma tengah mempersiapkan referendum yang rencananya akan berlangsung 10 Mei mendatang. Isi referendum hanya untuk memperpanjang kekuasaan para jenderal dan menutup kesempatan bagi Suu Kyi untuk memimpin negeri itu. Rakyat sudah digiring agar dalam referendum nanti mengisi ‘ya’, yang berarti mendukung junta.

Masuknya Myanmar sebagai anggota Asean dulu juga disayangkan banyak pihak. Namun Asean tetap membuka pintu meski saat itu dunia sedang gencar-gencarnya menentang penahanan Aung San Suu Kyi. Ternyata belakangan negara-negara Asean sendiri yang mengecam kebijakan politik Myanmar dan kecewa atas sikap Myanmar yang tak peduli dengan berbagai pandangan dunia. Junta militer sudah berlangsung lama di Myanmar dan kini sudah menjadi tradisi.

Kini dengan bencana yang tengah menimpanya, dunia hanya berharap pemerintah Myanmar lebih tersentuh hatinya dan melihat penderitaan rakyatnya sebagai peristiwa kemanusiaan dan tidak dipolitisasi untuk kepentingan junta militer.

Peristiwa tsunami di Aceh dan Nias, angin topan di Myanmar dan berbagai bencana alam lain di dunia, hendaknya menyadarkan kepada kita semua bahwa kita tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Hidup dan mati hanya Tuhan yang punya. Karena itu, kita yang hidup tidak berhak melebihi kekuasaan Nya sebagaimana yang terkesan dilakukan oleh para pemimpin Myanmar. Semoga bencana angin topan segera berlalu dan para korban mendapat pertolongan lewat berbagai bantuan kemanusiaan.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s