Bensin Rp 9 Ribu per Liter

• Pembeli Berjerigen Membeludak

TANJUNG, BPOST – Pemerintah baru memberikan sinyal menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun harga premium (bensin) di tingkat eceran sudah melonjak. Bahkan mencapai Rp 9 ribu per liter.

Kenaikan fantastis ini terjadi di Tabalong. Dari penelusuran BPost, para penjual eceran memanfaatkan krisis BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Antrean panjang pun mewarnai pemandangan di SPBU-SPBU di daerah ini.  “Saya datang dari Banjarmasin lewat Amuntai. Waktu berhenti beli eceran di Jangkung ditawari Rp 6.500 seliter, saya tidak mau. Lalu jalan lagi sekitar 200 meter ada pengecer, saya malah ditawari Rp 9.000 seliter,” kata Dedi, seorang warga yang ditemui saat sedang antre bensin di SPBU Mabuun, Rabu (7/5).

Menurut Dedi, kesulitan mendapatkan bensin mulai dirasakan saat memasuki Kota Amuntai dan Tanjung. Kondisi sebaliknya terjadi di kota Rantau, Barabai dan Kandangan.

Di Tabalong ada empat SPBU. Tapi, hanya SPBU Mabuun dan Hikun yang masih membuka pelayanan secara optimal. SPBU Mantuil hanya membuka pelayanan untuk premium karena solar masih disegel polisi. SPBU Maburai yang merupakan SPBU paling baru dan terbesar sudah beberapa bulan tidak beroperasi karena tersandung masalah hukum.

Pengawas SPBU Mabuun, Mobilum mengaku sempat kehabisan stok BBM karena kesulitan melakukan order. Bahkan, pasokan untuk Senin berkurang satu dari tiga tangki.

Padahal, pada awal 2008 lalu, dalam rapat koordinasi dengan pengusaha SPBU, LSM, DPRD, dan sejumlah instansi terkait–minus perwakilan YLKI –, Pemkab Tabalong menetapkan harga eceran tertinggi (HET) BBM jenis premium Rp 5.500 saat kondisi sulit.

Berdasarkan pantauan di daerah lain, warga juga mulai mengeluhkan kekosongan BBM. Di Buntok, Barito Selatan, bensin di tingkat eceran sudah mulai naik sebesar Rp 500 hingga Rp 1.000 per liter. Di Muara Teweh, harga bensin eceran mencapai Rp 7.000 per liter. Namun, harga ini dinilai masyarakat masih normal. Harga yang sama terjadi di Puruk Cahu.

Namun, di Banjarbaru dan Martapura belum terjadi kenaikan, masih Rp 5.000 per liter. Harga normal juga terjadi di Palangka Raya. Meski terjadi antrean panjang di sejumlah SPBU, harga eceran masih Rp 6.000-7.000 per liter.

Bagaimana di Banjarmasin? Secara umum masih normal, Rp 5.000 per liter. Namun, ada sejumlah pengecer yang sudah menaikkan menjadi Rp 5.500-6.000 per liter.

Berjerigen
Pemandangan yang terlihat di Banjarmasin adalah banyaknya pembeli berjerigen. Seperti di SPBU Jalan S Parman. Antrean pembeli berjerigen ini mengalahkan antrean para pengendara roda dua. Pengelola SPBU masih melayani mereka membatasi penjualan maksimal 50 liter.

“Mungkin besok (hari ini) akan kami kurangi menjadi 30 liter per orang. Karena hari ini (kemarin) lonjakan pembeli cukup tinggi. Kita tidak bisa melarang orang ingin beli, kalau dilarang itu artinya menghilangkan pekerjaan mereka yang mengambil untung hanya beberapa ratus rupiah saja,” ujar Pengawas SPBU, Arif.

Salah seorang pembeli, Ahmad mengatakan dia ikut mengantre di sini karena sejumlah SPBU lain tidak melayani. “Di SPBU Sabilal Muhtadin tidak melayani (pembeli berjerigen)lagi, di SPBU Jalan Adhyaksa sudah habis,” katanya.

Sales Area Manager BBM Ritel Kalselteng, Budi Busama ketika dikonfirmasi menegaskan pasokan berjalan normal. “Suplai tidak ada gangguan, kalau ada keterlambatan di daerah saya rasa hanya karena letaknya jauh,” ujarnya.

Mengenai kenaikan harga eceran di tabalong, Budi menilai hal itu terjadi karena panic buying. “Itu biasa. Nanti berakhir sendiri,” katanya.

Soal pembeli berjerigen? “Pertamina sebenarnya tidak membolehkan tapi kondisi di lapangan kan beda. Sebagian pembeli  berjerigen juga rakyat kecil yang penghasilannya dari sana. Dan SPBU juga tidak bisa melarang begitu saja, karena mereka yang berjerigen itu membeli bukan meminta,” tegas Budi.

Sembako
Rencana menaikkan harga BBM ini belum diperparah dengan naiknya harga bahan pokok seperti beras dan gula. Seorang pegadang beras di pasar Sentra Antasari, Hj Eni, mengatakan harga beras belum naik. “Sebaliknya, beras ganal (lokal) turun seratus rupiah,” katanya.

Sedangkan harga gula pasir masih tetap berkutat di angka Rp 6 ribu per kilogram. “Selama dua hari ini belum ada kenaikan. harganya tetap,” kata seorang pedagang, Fitri. (nda/mgb/udi/edi/ck7/ff/arl/cc)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s