Kekacauan Bisa Terulang

• BLT Plus Gunakan Data Lama

PEMERINTAH
kembali menggulirkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM sebagaimana yang diterapkan pada 2005 silam. Bedanya ada tambahan, yakni pembagian uang Rp 100 ribu per bulan plus sembako gratis.

Pengamat Ekonomi Unlam Banjarmasin, Syahrituah Siregar menilai, pemerintah tidak belajar dari sejarah. Belajar dari BLT 2005 yang terbukti tidak efektif mengurangi beban warga miskin. “Semestinya BLT terdahulu jadi pelajaran buat pemerintah. BLT itu harus dikaitkan dengan falsafah pancing dan ikan. Semestinya warga miskin diberi pancing bukan ikan,” ujarnya.

Kalaupun BLT dihidupkan lagi, besarannya harus sesuai dengan beban yang ditanggung warga miskin.

“Coba kita hitung kalau naiknya BBM 30 persen, bagi warga miskin, beban yang mereka tanggung lebih dari Rp 100.000 per bulan. Karena itu harus ada inovasi disertai data-data yang akurat sehingga tidak salah sasaran lagi,” kata Syahrituah.

Ekonom dari Tim Indonesia Bangkit Hendry Suparini berpendapat senada. Dia pun khawatir banyak warga miskin yang tidak menerima karena Menkeu Sri Mulyani mengatakan pembagian BLT plus itu menggunakan data angka kemiskinan 2005 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 19,1 juta jiwa.

“Padahal sejak 2006-2008 muncul banyak keluarga miskin baru yang belum terdata. Otomatis banyak yang tidak akan kebagian,” katanya.

Kemungkinan terjadi kekacauan saat pembagian BLT, diakui  Kepala BPS Kalsel, Bambang Pramono. Salah satu penyebabnya adalah mepetnya waktu pendataan. “Selain itu, saat pendataan biasa banyak yang tidak mengaku miskin. Namun, ketika didata untuk BLT, ramai-ramai mengaku miskin,” ujarnya.

Apalagi, pemerintah menetapkan penerima BLT bukan hanya rumah tangga miskin tetapi juga rumah tangga mendekati miskin. Range yang kian luas ini bisa mengakibatkan data warga miskin di Kalsel membengkak.

BLT 2005 di Kalsel diberikan selama 12 bulan dengan jumlah penerima 246.242 rumah tangga miskin (RTM).

“Berkaca pengalaman yang lalu, untuk meng-update data penerima BLT ini kami ingin semua unsur terkait termasuk aparat keamanan mem-back up sehingga petugas kami nggak takut untuk mendata sesuai konsep yang ada,” tukasnya.

Jumlah penduduk miskin absolute Kalsel berada di peringkat ke-31 dari seluruh provinsi di negeri ini. Pada 2006, jumlahnya 278.500 jiwa. Sedangkan pada 2007 sebanyak 233.500 jiwa. (ff/ais/Persda Network/aco)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s