BK DPR Harus Tegas

EMPAT anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meringkuk di sel, menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga terlibat kasus korupsi dan penyuapan.

Mereka adalah Saleh Djasit, Hamka Yandhu, Al Amin Nur Nasution dan Sarjan Taher. Nasib mereka sebagai legislator berada di ujung tanduk. Sebab, keempat wakil rakyat tersebut kemungkinan besar tak bisa mengikuti persidangan selama tiga bulan secara berturut-turut. Jika demikian adanya, sesuai dengan aturan main di dewan, Badan Kehormatan (BK) memiliki wewenang untuk merekomendasikan pemberhentian mereka.

Lembaga yang dipimpin Irsyad Sudiro ini memiliki keleluasaan dalam mengambil keputusan. Ketika dia mengetok rekomendasi pemberhentian terhadap anggota parlemen, maka fraksi maupun partai tak bisa berbuat apa-apa.

Sebab, keputusan itu akan langsung dibawa oleh BK ke pimpinan dewan, lalu dilanjutkan ke presiden. Jelas ini sebuah kewenangan yang seharusnya menjadi kebanggaan lembaga itu. Akan menjadi tidak membanggakan jika lembaga itu hanya diam melihat anggota dewan ditahan. Atau malah mengeluarkan ancaman ketika ada kelompok band mengkritik perilaku dewan.

Kemarin, BK menggelar pertemuan dengan KPK. Peserta pertemuan adalah Ketua BK DPR Irsyad Sudiro, Wakil Ketua BK Gayus Lumbuun, anggota BK Anshori Siregar, Yunus Yosfiah, dan Markus Silano, kemudian Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto.

Rapat yang disebut Irsyad Sudiro merupakan pertemuan dari hati ke hati sebagai sesama lembaga negara itu, berlangsung selama tiga jam di Gedung KPK Jakarta. Entah apa yang dimaksud dari hati ke hati, yang pasti Irsyad berani mengklaim pertemuan itu membahas pemberantasan korupsi sampai akar-akarnya.

Kita berharap, klaim Irsyad itu benar adanya. Pertemuan itu berisi tentang penghormatan kewenangan masing-masing lembaga. Artinya, KPK tetap terus melaksanakan tugasnya memberantas korupsi, utamanya yang melibatkan anggota parlemen.

Sementara Irsyad dan kawan-kawan melaksanakan tugasnya untuk mencari informasi terkait keterlibatan empat anggota dewan yang ditahan, guna menyiapkan rekomendasi pemberhentian.

Dan setiap ada indikasi korupsi di parlemen, dua lembaga itu harus bertindak sesuai kewenangan. KPK mengurusi persoalan hukumnya, sedang BK menangani etika.

Masing-masing lembaga memang harus membuka pikiran untuk memperoleh informasi dan pemahaman, karena tidak mudah membedakan mana ranah hukum dan mana yang ranah etika.

Jangan sampai kasus penolakan penggeledahan gedung dewan oleh KPK terulang kembali. Meski akhirnya kita merasa lega karena dewan mempersilakan KPK ‘mengobok-obok’ ruangan Komisi IV DPR untuk mencari bukti keterlibatan Al Amin Nur Nasution dalam kasus dugaan suap alih fungsi hutan di Bintan.

Karena dewan sudah mempersilakan KPK melakukan penggeledahan, kini giliran lembaga yang dipimpin Antasari Azhar memberi keleluasaan dengan mempersilakan BK DPR bertemu dengan anggota dewan yang menjadi tersangka. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh BK guna dijadikan bahan persidangan, apalagi pada 12 Mei nanti memasuki masa sidang.

Terlebih lagi, BK sudah mengantongi fakta-fakta yang ada di KPK yang digunakan sebagai dasar pengusutan. Tentu fakta-fakta tersebut bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan BK dalam menentukan sikap.

Ditambah fakta-fakta yang didapat dari tersangka, maka lengkap sudah untuk dibahas bersama. Kini, tinggal ketegasan BK untuk mengambil keputusan mengenai sanksi terhadap empat anggota dewan tersebut tanpa menunggu putusan pengadilan.

Ini seiring dengan tekad Gayus Lumbuun bahwa dalam kasus ini, BK bisa mengambil sikap tanpa harus menunggu putusan pengadilan. Tekad ini jelas mencerminkan ketegasan BK.

Namun kita masih harus menunggu ketegasan itu. Semoga saja, BK memiliki nyali untuk mengambil tindakan tegas terhadap anggota dewan yang melakukan pelanggaran.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s