Jelang Pernikahan Hidayat Nurwahid (1), Diana Dulunya Perempuan Tomboi

Akhir pekan ini, Ketua MPR Hidayat Nurwahid mengakhiri masa dudanya. Dia bakal menyunting dr Diana Abbas Thalib. Pertautan hati keduanya berlangsung kilat. Hanya cukup waktu satu bulan untuk memutuskan melangkah ke pelaminan.

Kehadiran Diana dalam kehidupan Hidayat membuat banyak pihak bertanya-tanya. Mencari tahu jatidiri dokter yang telah memikat hati mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu. [Selebihnya…]

Lahir dan dibesarkan oleh pasangan dr Abbas Thalib dan Fauziah, Diana menikmati masa kecilnya hingga berusia enam tahun di Pasuruan, Jatim sebelum hijrah ke Jakarta.

Putri kedua dari empat bersaudara ini memulai sekolah di SD berlanjut ke SMPN 36, SMA 8 Jakarta, dan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Kemudian melanjutkan S2 di Universitas Indonesia, mengambil jurusan Kajian Administrasi Rumah Sakit.

Memiliki ayah seorang dokter dan ibu yang mencurahkan seluruh waktunya untuk keluarga, membuat Diana dan ketiga saudaranya mendapat didikan cukup keras.

Sejak kanak-kanak hingga SMA, pergaulan mereka dibatasi. Diana tak boleh bergaul dekat dengan seorang laki-laki sehingga tidak mengenal istilah pacaran, bepergian dengan laki-laki atau pulang pada malam hari.

Jika hingga pukul 06.00 sore, Diana belum pulang rumah, sang ayah akan menghentikan praktiknya. Dia tak bisa berkonsentrasi kerja sementara anak perempuannya masih berada di luar rumah.

“Jadi saya terbiasa dengan situasi seperti itu. Ayah saya menjaga anak perempuannya bagai menjaga pualam atau kristal. Artinya tidak boleh sampai ada yang mengganggu, tidak boleh sampai gimana…gitu. Ini berlangsung sampai saya mau masuk ke kedokteran,” tutur Diana.

Saat Diana memutuskan untuk kuliah di kedokteran, sang ayah sangat memotivasi keinginanya hingga bisa lulus tepat waktu. Dia berhasil menyelesaikan kuliah pada Desember 1990.

Sebulan kemudian, perempuan berhidung mancung ini pun mengakhiri masa lajangnya. Dia menikah tanpa melewati proses pacaran.

Bersama sang suami, — Diana menolak menyebutkan namanya– yang tidak bersedia diungkapkan namanya, Diana berbisnis di alat-alat medis. Tak hanya itu, mereka juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan mining (pertambangan) untuk membuat klinik kesehatan.

Diana sempat membuka klinik di beberapa daerah di Indonesia. Di Kaltim misalnya, perempuan yang pernah menjadi presenter acara keagamaan di Lativi (sekarang TVOne) ini membuka klinik di Sangatta, Kutai Timur, untuk PT Kaltim Prima Coal. Lalu mengembangkan usahanya dengan membuka kantor cabang di Balikpapan. Kemudian di Satui, Kotabaru, Kalsel untuk PT Thiess.

Diana menjalankan ibadah haji untuk kali pertama pada 2000. Setelah menjalani ibadah haji, dia mengalami perubahan signifikan.

Pasalnya, sebelum menunaikan ibadah haji, perempuan murah senyum ini dikenal dengan sifatnya yang agak tomboi dengan kehidupan yang modern karena memfokuskan diri dengan pekerjaan.

Namun, sepulang dari ibadah haji perempuan yang biasanya memperlihatkan rambut indahnya ini, memutuskan untuk menggunakan jilbab dan menjalani pola hidup lebih islami dengan terlibat di berbagai pengajian. (Persda Network/tat)

2 Komentar

  1. Semoga Allah memberkahi pernikahan Pak Hidayat nurwahid dan dr. diana, Amiin.

  2. barokaallahulaka


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s