Plat Nomor Pengantre Dicatat

TANJUNG, BPOST – Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Tabalong membuat masyarakat menjerit. Antrean panjang kendaraan roda dua dan empat malah kian memanjang hingga menimbulkan kemacetan di ruas jalan dekat SPBU yang buka.

Bahkan kemacetan di Jalan A Yani Mabuun depan SPBU Mabuun kemarin sempat menimbulkan sejumlah kecelakaan ringan hingga diwarnai sumpah serapah para pengguna jalan.

Panjang antrean kemarin lebih satu kilometer. Kendaraan roda empat yang antre sampai lapis yang memanjang dari sebelah kiri dan kanan pintu masuk SPBU. Sedangkan antrean kendaraan roda dua sampai empat barisan menyesaki pelataran SPBU hingga luber ke badan jalan.Akibat banyaknya kendaraan yang antre di kedua sisi jalan, pengguna jalan menjadi terganggu, bahkan ada yang celaka. Seperti seorang ibu rumah tangga yang kaki kirinya sampai terlindas ban mobil jenis jeep saat mencoba mendahului mobil itu di jalan yang menyempit di depan SPBU Mabuun pukul 09.30 Wita kemarin.

Kecelakaan kecil itu sempat menarik perhatian aparat Lantas Polres Tabalong yang bertugas dekat lokasi kejadian. Sejak terjadi antrean panjang kendaraan aparat Lantas kembali dibuat sibuk menertibkan kendaraan di ruas jalan depan SPBU.

Pemandangan serupa juga terlihat di SPBU Hikun di Kota Tanjung. Jalan Basuki Rahmat yang biasanya lapang terlihat sumpek karena berbagai jenis kendaraan roda dua dan empat mulai ukuran kecil sampai truk besar berbaris memanjang menunggu giliran pengisian.

“Hari ini kita khusus mengantre BBM, besok baru narik penumpang. Kalau tidak begitu, mobilnya tidak bisa jalan. Sebab mau beli eceran mahal, di Muara Uya solar saja Rp 7.000 seliternya,” kata Zaidin, sopir angkutan Tanjung-Banjarmasin yang ikut antre di SPBU Mabuun.

Sementara itu keberadaan para pengecer BBM yang sempat menghilang kini kembali bermunculan. Namun harga yang dibanderol rata-rata tinggi. Untuk BBM jenis premium atau bensin termurah di Kota Tanjung Rp 7.000 per liter, sedangkan solar Rp 6.000 per liter. Padahal resminya di SPBU harga bensin cuma Rp 4.500 per liter, sedangkan solar Rp 4.000. Para pengecer beralasan sulit mendapatkan BBM karena harus menunggu lama dan hanya bisa antre sekali di satu SPBU.

Sebagian pengecer juga mengaku membeli dari pelangsir dadakan dengan harga yang sudah cukup tinggi Rp 6.000 – Rp 6.500 per liter. “Karena belinya sudah mahal, terpaksa saya jual mahal jua. Tapi untungnya tidak banyak cuma Rp 500 – Rp 1.000 seliternya,” kata Jannah, pengecer di Mabuun.

Pengawas SPBU Mabuun, Mobilum mengatakan pihaknya tidak dapat melarang para pelangsir antre. Namun untuk memeratakan penjualan, pihaknya membatasi pembelian pada kendaraan dengan tangki modifikasi untuk roda dua sebanyak 8,8 liter senilai Rp 40 ribu dan roda empat 30 liter atau Rp 135 ribu.

“Kita juga catat plat nomor kendaraan yang antre pakai komputer supaya tidak antre dua kali. Selain itu distribusi 10 ribu liter BBM ke daerah dihentikan sementara untuk mencukupi yang di sini,” katanya.

Selama ini SPBU Mabuun juga menyuplai pangkalan atau pengecer BBM di kecamatan pelosok untuk melayani masyarakat. Setidaknya ada 50 pengecer di daerah yang jadi binaannya.

Kemarin jatah BBM untuk SPBU Mabuun tetap dikurangi dari jatah asal 30 ribu liter premium menjadi 20 ribu liter saja plus 10 ribu liter solar. Sedangkan SPBU Hikun punya persediaan 20 ribu liter bensin dan 10 ribu liter solar. (nda)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s