Minyak dan Pangan Bisa Menyengsarakan

ADA dua hal yang saat ini bisa mendatangkan kesengsaraan rakyat Indonesia, bahan bakar minyak (BBM) dan pangan.

Harga BBM di tingkat dunia yang terus meroket sampai di atas 100 dolar per barel membuat pemerintah kalang kabut karena pembengkakan subsidi yang tak kepalang tanggung.

Dalam APBN Perubahan tahun 2008, subsidi BBM mencapai Rp 126,82 triliun. Subsidi itu mengasumsikan, harga minyak dunia masih 95 dolar per barel dan volume BBM subsidi 35 juta kiloliter. APBN masih menyediakan cadangan Rp 18,3 triliun jika asumsi harga dan volume BBM subsidi meleset.
Kesulitan lain adalah pangan. PBB sampai-sampai harus turun tangan karena harga pangan di pasar dunia juga melonjak tajam. Bukan hanya negara-negara ketiga yang miskin yang menerima dampaknya, Indonesia pun akan terkena dampak.

Sekarang ini saja banyak orang sudah kesulitan pangan, ada yang makan nasi aking bahkan ada yang memakan sampah atau sisa makanan yang diambil dari tumpukan sampah. Minyak goreng dan kedelai juga disubsidi karena kelangkaan produksi.

BBM dan pangan adalah dua komiditi yang sesungguhnya dimiliki oleh Indonesia. Pada masa lalu, kedua komoditi ini bahkan pernah membawa Indonesia dalam suatu kemajuan yang sangat berarti. BBM, misalnya, pada tahun 1970 an menghasilkan pendapatan yang sangat besar, sehingga bisa membiayai pembangunan. Padahal saat itu ada kasus korupsi Pertamina yang membuat perusahaan negara itu hampir bangkrut. Saat itu harga minyak dunia juga melonjak tajam.

Pada tahun 1980 an kita juga pernah mendapat penghargaan FAO (Badan Pangan Internasional), karena berhasil swasembada pangan. Indonesia benar-benar mengalami masa kejayaan. Produksi mobil, sepeda motor atau barang konsumtif lain meledak sebagai salah satu tolok ukur kemakmuran.

Kini kita tidak mampu bangkit kembali apa yang pernah kita capai, yang ada hanya cekcok dan perkelahian.

Sekarang pun potensi itu sesungguhnya masih ada. Kita memiliki produksi minyak sekitar 900. 000 barel per hari, di bawah zaman Soeharto yang mencapai sekitar 1,2 juta barel per hari.

Dari produksi yang kita dapat, bagian Indonesia dan mitra asing berbanding 60:40. Tetapi kita tidak bisa serta merta menggunakan bagian kita untuk dalam negeri semua karena kita juga punya kewajiban ekspor, sehingga sebagian kebutuhan dalam negeri harus impor dengan harga yang mahal.

Jual-beli minyak dari dan keluar negeri sekarang tidak bisa langsung, tetapi melalui broker atau makelar. Sementara di dalam negeri juga banyak lika-likunya sampai-sampai sejumlah pengamat mengusulkan pemerintah mengambil kebijakan yang tegas. Kenaikan harga hanyalah penyelesaian sementara.

Di bidang pangan sama saja. Jumlah panen kita cukup besar dan sangat kebetulan saat kita panen harga pangan di dalam maupun luar negeri melonjak tajam. Tapi tidak berarti kenaikan itu bisa dinikmati petani. Petani justru banyak yang menangis karena tidak bisa membeli beras yang harganya saat ini sekitar Rp 5.000 an tiap kilogram. Hasil penjualan gabah habis untuk keperluan sehari-hari, kalau toh tersisa tak cukup untuk makan sampai panen berikutnya.

Tingginya harga pangan bukan hanya masalah bagi Indonesia tapi juga negara lain. Celakanya, dunia tidak hanya kesulitan beras tetapi juga produk minyak sawit, kedelai dan tanaman yang lain. Semula produk itu hanya untuk pangan, kini dijadikan bahan baku pembuatan biodisel atau solar sehingga mengganggu cadangan pangan.

Andaikata Indonesia bisa kelebihan beras, sawit atau kedelai, kesempatan ini tentu sangat menguntungkan. Tetapi meski minyak dan gas kita punya, lahan pertanian terbentang luas, tapi tidak bisa mendatangkan manfaat yang maksimal.

Tak ada cara lain, sebagai negara agraris kita harus meningkatkan produk pertanian dan sebagai penghasil minyak harus meningkatkan produksi dan memangkas banyaknya lika-liku yang hanya menguntungkan oknum tertentu.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s