Solusi Terakhir yang Tiada Akhir

Oleh: Agus Pebrianto SE MSi
* Dosen Politeknik Negeri Banjarmasin

DUA kali pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla menaikkan harga BBM. Kalimat pamungkas yang diucapkan adalah ‘Inilah solusi terakhir’.

Apa sebenarnya yang mendasari solusi akhir ini, karena solusi pertamanya belum pernah diucapkan, apalagi solusi kedua, solusi ketiga dan seterusnya. Tapi senjata yang mereka miliki adalah solusi akhir, seakan-akan tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi pemerintah saat ini.Kebijakan pemerintah menaikkan BBM dipandang kalangan ekonom merupakan kebijakan yang sangat terburu-buru dan bahkan membabi buta.

Sebenarnya kita tidak anti dengan kenaikan harga BBM, akan tetapi apakah pemerintah sudah membuat alternatif-alternatif yang lebih bijaksana dalam menyikapi kondisi saat ini.

Dengan menaikkan harga BBM, sebenarnya pemerintah meminta sesuatu dulu kepada rakyatnya kemudian membagi-bagikan bantuan langsung tunai (BLT), yang sebenarnya BLT ini adalah program ganti rugi bukan ganti untung kepada rakyat miskin. Apakah dengan cara seperti itu masyarakat kita lebih terdidik dan menjadi lebih baik.

Program BLT sifatnya hanyalah temporer, dan celakanya pemerintah dalam program BLT ini menggunakan acuan database tahun 2005 yang pada saat itu tidak akurat dan tentunya tiga tahun ini sudah terjadi pergeseran yang cukup signifikan.

Sebenarnya minyak dan gas yang terkandung di dalam negeri ini milik siapa, apakah hanya milik pemerintah, atau juga milik rakyat. Seakan-akan ada dinding pemisah antara pemerintah dengan rakyatnya. Seharusnya pemerintah memberikan penjelasan yang detail mengenai status minyak dan gas yang ada.

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang kaya akan minyak dan gas, mengapa program konversi minyak dan gas juga kacau. Padahal banyak negara lain yang tidak memiliki sumber daya minyak dan gas, tapi kondisinya lebih baik dari negara ini.

Krisis yang terjadi saat ini adalah yang paling buruk sepanjang sejarah sejak kemerdekaan tahun 1945, yaitu krisis multi demensi antara krisis pangan dan krisis BBM serta krisis legitimasi.

Jumlah rakyat miskin di negeri ini 60 juta orang lebih, sungguh angka yang sangat fantastis. Apakah program BLT merupakan suatu solusi kebijakan dalam penyelesaian krisis ini?

Saya rasa kebijakan itu justru membuat rakyat kita terpaku dan termenung mengharap bantuan pemerintah. Alangkah baiknya pemerintah membuka lapangan pekerjaan yang dapat menyerap tenaga yang menganggur.

Apabila BBM benar-benar dinaikkan, berarti pemerintah telah menghacurkan peluang yang ada, kalangan industri menengah ke bawah semakin terpuruk. Angka kemiskinan akan semakin meningkat.

Pemerintah seharusnya memaksimalkan pendapatan dari sektor pajak, termasuk pajak perusahaan minyak dan gas, serta peningkatan pajak dari perusahaan pertambangan.

Untuk mengentaskan kemiskinan, pemerintah harus membuat program jangka panjang dengan cara program kerja padat karya. Prioritaskan usaha kecil dan mikro di segala sektor sehingga makin maju dan berkembang.

Program lain yang lebih penting adalah membangkitkan generasi muda mulai dari moral hingga kinerjanya, didik mereka menjadi  aset bangsa. Apabila pemerintah menanamkan investasi di bidang pembinaan mental dan spiritual pada generasi muda, tentunya akan jauh lebih efektif daripada program BLT atau mendapatkan (Bantuan Lalu Tidur) tanpa pernah menyadari bahwa hari esok lebih berat dari hari sekarang.

Masyarakat miskin juga harus menyadari bahwa BLT yang mereka terima bukan untuk mengangkat mereka bangkit dari kemiskinan, BLT hanyalah bantuan yang sifatnya sementara untuk meringankan beban akibat kenaikan BBM.

Pemerintah daerah hendaknya juga jangan tinggal diam untuk membantu masyarakat miskin. Buatlah program kerja yang dapat menyerap tenaga orang banyak. Apa pun bisa dilakukan, selama kita mau bangkit dan berusaha, maka pengentasan kemiskinan di negeri ini akan bisa diatasi secara bersama-sama.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s