Dualisme Gratifikasi

LANGKAH Komisi Pemberantasan Korupsi semakin lugas dan lentur. Lembaga pimpinan Antasari Azhar itu kini tidak saja memburu kasus-kasus besar dan rumit, tapi juga sudah mulai merambah ke ranah individual.
Ya, KPK kemarin, ‘mengendus-endus’ acara pesta pernikahan yang dihelat dua tokoh nasional, Hidayat Nur Wahid dan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Kenapa harus diendus? Ya, karena yang menikah adalah Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Sudah pasti mereka yang hadir dalam perhelatan itu datang dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai birokrat kelas atas hingga bawah, para elit parpol dan tentunya juga para pengusaha. Lazimnya hajatan perkawinan, sudah barang tentu tidak ketinggalan ‘angpao’ atau hadiah diberikan oleh mereka yang hadir kepada mempelai.Nah, soal hadiah angpao yang bahasa hukumnya gratifikasi ini pula yang menjadi target KPK. Besaran hadiah yang diterima Hidayat Nur Wahid ini menurut kacamata KPK apakah sudah masuk dalam rambu-rambu gratifikasi. Sejauh ini belum ada batasan yang baku seberapa besar hadiah yang diberikan tersebut bisa dikatagorikan ‘halal’ menurut kacamata KPK.

Hingga kemarin, belum ada laporan resmi dari KPK terkait hasil temuan mereka atas hadiah-hadiah yang diterima Hidayat Nur Wahid dari para undangan. Tim dari KPK kini juga tengah menelisik hadiah-hadiah pernikahan putri Sultan Hamengku Buwono X.

Dari dua peristiwa di atas, bahwa pemberian hadiah atau gratifikasi kepada pejabat menjadi salah bentuk baru upaya penegakan hukum di negeri ini. KPK pun tampaknya memberi perhatian khusus terhadap modus-modus gratifikasi. Bagaimanapun sumber terjadinya korupsi model demikian dimulai dari pertemanan, lobi hingga berbagi sama keuntungan.

Contoh riil, dugaan korupsi yang melibatkan sejumlah anggota Komisi IV DPR yang ‘tersandung’ karena gratifikasi.

Ditilik secara hukum, gratifikasi tidak ada masalah. Tindakan (gratifikasi) itu sekadar perbuatan seseorang memberikan hadiah atau hibah kepada orang lain. Hal ini tentu saja diperbolehkan. Namun, seiring perkembangan waktu, budaya dan pola hidup, pemberian yang acap disebut gratifikasi itu mulai mengalami dualisme makna.

Contohnya, tetangga kita memberikan semangkuk sup kambing kepada kita. Dalam etika bertetangga, hal ini adalah hal yang lumrah, dan pemberian ini adalah wujud dari silaturahmi. Bentuk gratifikasi model demikian tentunya diperbolehkan. Apalagi, sama sekali tidak ada pamrih dari pemberian tersebut.

Kondisi ini bisa menjadi berbeda ketika seorang pengusaha mengirimkan hadiah, parcel atau apapun namanya kepada seorang pejabat pemerintahan yang memiliki wewenang atas kebijakan.

Dari kasus ini kita bisa melihat bahwa pemberian si pengusaha bukanlah sesuatu yang percuma. Pemberian itu terkait erat dengan kapasitas si pemberi dan si penerima. Apakah ini bisa dikatakan tanpa pamrih? Tentu saja tidak.

Undang Undang No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mendefinisikan gratifikasi sebagai pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat atau diskon, komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Pasal 12 B UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001, cukup tegas bahwa setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap.

Praktik korupsi dalam bentuk gratifikasi sendiri setua peradaban manusia. Dalam konteks Islam, perolehan sesuatu dibolehkan, seperti infak, sedekah, pemberian, dan hadiah. Namun ini dapat berubah status hukumnya menjadi haram jika yang menerima adalah para pejabat pemerintah atau penyelenggara negara.

Kita mendukung langkah KPK mengendus kesana-kemari setiap sesuatu yang berbau gratifikasi. Bagaimanapun praktik korupsi terjadi bukan karena situasi dan kondisi tapi bagaimana menciptakan peluang ke arah itu.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s