Membangun Logika Poligami

Oleh: Ahmad Barjie B

DI antara benang merah film dan sinetron dengan tema percintaan bernuansa agama akhir-akhir ini adalah adanya upaya memperjuangkan logika poligami.

Dalam Ayat-ayat Cinta (AAC), Fahri (Fedy Nuril) beristri dua Aisha (Rianti Cartwright) dan Maria (Charissa Putri). Dan dalam Munajah Cinta (MC), Atar (Baim Wong) akhirnya juga memiliki dua istri, Khumaira (Rianti) dan Maemunah (Zaskia Mecca). Tampak penulis cerita (Habiburrahman el-Shirazy) yang dijuluki Buya Hamka masa kini ingin menekankan kepada pembaca novelnya atau pemirsa film/sinetronnya bahwa poligami dalam kondisi tertentu wajar, tidak terhindarkan dan menjadi keputusan sulit. Bahkan istri pertama yang memaksa suaminya agar menikahi perempuan lain yang dianggap baik.

Sekedar menolong tanpa mengawini dapat mengundang fitnah seperti dialami Atar atas Maemunah (Mae). Karena itu, Khumaira berkali-kali meminta kepada Atar agar segera menikahi Mae yang cantik dan salehah, walaupun Atar mengaku tidak punya perasaan apa-apa. Khumaira bersedia diduakan bukan sebagai antisipasi kalau dia meninggal karena diabetes mellitus akut, tetapi didorong keislaman yang kental dan sangka baik kepada takdir Allah.

Nilai plus poligami dalam cerita tersebut di antaranya Fahri yang beristrikan perempuan bule yang muallaf. Dan Atar yang menikahi Mae karena rasa tanggung jawab untuk melindungi Mae dari bahaya premanisme Bakri yang mengincarnya. Sekaligus memberdayakan hidup Mae dan ayahnya Kasan (Pietrajaya Burnama) yang miskin di kampung.

AAC dan MC berbeda dengan film senada masa lalu. Dalam film layar lebar Cinta Segitiga karya Rhoma Irama misalnya, nuansa agama juga ada, percintaannya terlihat sopan dengan selingan lagu-lagu syahdu, tetapi artisnya belum memakai busana muslim/muslimah.

Dalam AAC dan MC, pemainnya hampir tidak pernah lepas dari busana yang menjadi identitas keislaman. Rianti baru melepas jilbabnya menjelang masuk peraduan selepas dinikahi Atar. Sedangkan Atar hanya sesekali melepas kopiah, walaupun kopiah tidak otomatis lambang kemusliman.

Suasana kehidupan pesantren dan besarnya peran kyai juga tampak di sini. Perbedaannya, tema cerita dengan rutinitas tontonan yang hampir selalu ditandai buka-bukaan dan intrik kasar, mungkin termasuk daya tarik sinetron tersebut, sehingga cukup digandrungi penonton, pemasang iklan dan banyak diperbincangkan publik.

Pernikahan poligami seperti dipesankan AAC dan MC diharapkan dapat mengurangi kontroversi poligami selama ini. Pernikahan baik monogami maupun poligami sebenarnya termasuk wilayah privacy dan masalah intern keluarga, tetapi cenderung menjadi masalah sosial dan nasional. Hal ini disebabkan dalam tataran teori maupun praktik masih terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan dan menerapkannya.

Kita melihat poligami yang dilakukan seringkali sembunyi-sembunyi, bukan seizin atau suruhan istri pertama. Konsekuensi poligami demikian tentu rentan masalah, sarat konflik, kecurigaan dan kesalahpahaman antarpihak, sebab tidak ada transparansi.

Poligami juga bukan karena istri berhalangan melayani suami atau mandul, tetapi hanya karena sang suami ingin menambah, sehingga kesan dominannya adalah motif nafsu semata. Sering pula terjadi istri kedua dan seterusnya lebih cantik, muda dan pintar daripada istri pertama. Hal ini berakibat istri pertama mudah disulut api cemburu, takut, stres dan cemas kalau ditinggalkan, diabaikan dan dikalahkan.

Kerap pula terjadi, istri yang dinikahi sudah mapan secara ekonomi, jadi pria yang mengawininya tidak lagi dibebani tanggung jawab ekonomi. Jarang ada yang mau mengawini janda yang relatif tua, miskin dan banyak anak, karena tidak mau terbebani. Padahal di tengah masyarakat begitu banyak janda cerai dan mati yang hidupnya terengah-engah karena punya banyak anak yang harus dinafkahi sendiri tanpa suami. Dalam perspektif pemberdayaan perempuan, mestinya mereka lebih diprioritaskan beroleh suami.

Menikah salah satu sunnah Rasulullah, dan beliau mengancam siapa yang tidak mengikuti sunnahnya bukan termasuk golongannya (Shahih al-Bukhari III/6: 116). Hadits ini belum dipahami secara tepat.

Ada kecederungan orang hanya menyenangi sunnah kawin, dengan mengabaikan sunnah-sunnah lainnya. Dan ketika perkawinan dilangsungkan tidak pula sejalan dengan sunnah, seperti mengutamakan agama/akhlak di atas kecantikan, keturunan dan harta, murah biaya dan maharnya.

Lebih 10 tahun pertama Rasulullah hanya beristrikan Khadijah yang usianya jauh lebih tua. Keunggulan Khadijah, dia janda kaya dan shalehah, suksesnya dakwah Nabi tidak terpisahkan dari jasa Khadijah.

Baru setelah Khadijah wafat, beliau mengawini sejumlah perempuan lain, seperti Aisyah, Hafsah, Zainab, Ummu Salamah, Saudah, Shofiah dan Mariah al-Qibtiyah. Di antara mereka hanya Aisyah yang perawan, selebihnya janda yang relatif tua, tidak cantik, miskin dan banyak anak.

Saudah janda tua yang ditinggal mati suaminya. Rasulullah sudah menawarkan Saudah untuk diperistri para sahabat lainnya, tetapi semuanya tidak ada yang berminat. Akhirnya Rasulullah sendiri yang mengawini guna mengayomi dan melindunginya.

Ummu Salamah janda beranak banyak, juga diperistri Rasulullah sekaligus menafkahi anak-anaknya. Shofiah binti Hujayy putri tokoh Yahudi bekas musuhnya, dinikahi agar terjalin hubungan emosional yang harmonis dengan bangsa Yahudi.

Tampak sekali praktik poligami Rasulullah semuanya bermotif sosial dan dakwah, bukan karena nafsu seksual. Tidak benar anggapan sebagian orientalis Barat atau sementara kalangan di tanah air, Rasulullah memiliki nafsu lebih. Beliau berani kawin lintas agama, etnis dan status. Yang ingin beliau pesankan dalam perkawinan termasuk poligami, motifnya harus bersifat pemberdayaan manusia. Ini penting, wajar dan logis. Seharusnya motif demikianlah yang melatari setiap praktik poligami.

barjie_b@yahoo.com

1 Komentar

  1. Tambahan lagi Rasulullah menikahi janda dari anak angkatnya untuk memberikan contoh mana yang halal dan haram. Jadi motifnya adalah juga menegakkan agama.

    Salam kenal


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s