Beban Hidup Makin Berat

HARI-hari terakhir ini begitu menyesakkan bagi kebanyakan orang awam setelah pemerintah mengisyaratkan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Pemerintah menyatakan tidak memiliki pilihan lain, kecuali menaikkan harga BBM untuk menyelamatkan APBN 2008 agar tidak terkuras untuk menutup subsidi BBM dan energi.

Akan tetapi, sebagian besar rakyat yang seperti disuarakan mahasiswa dan elemen masyarakat dalam aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM, tidak mau tahu kesulitan pemerintah.Setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres M Jusuf Kalla juga sejumlah menteri mengisyaratkan harga BBM akan naik, yang terjadi hanyalah kegelisahan masyarakat kecil. Antrean kendaraan di SPBU menjadi petunjuk nyata kegelisahan itu.

Yang dilakukan pengantre di SPBU itu hanyalah sedikit usaha untuk berhemat agar ketika harga BBM naik, mereka masih sedikit memiliki persediaan premium dan solar dengan harga lama.

Andai orang kecil memiliki duit cukup, tentu akan memborong sembako sebanyak mungkin. Mereka sudah begitu berpengalaman bahwa setiap kenaikan harga BBM, dipastikan akan diikuti kenaikan harga barang dan jasa.

Jangankan memborong sembako, bisa menanak nasi dengan lauk dan sayur seadanya saja sudah bersyukur. Pasalnya ekonomi rakyat kecil semakin sulit.

Kerupuk, tahu, tempe, sayur ikatan, daging ayam, sapi, dan lainnya yang dikemas dalam ukuran lebih kecil dibandingkan sebelumnya, secara jelas menunjukkan melemahnya daya beli masyarakat.

Bagi rakyat kecil, pemerintah menaikkan harga sekarang atau bulan depan tidak ada beda karena semua harga barang sudah naik. Penundaan kenaikan harga BBM itu hanya menambah ketidakpastian harga saja.

Pemerintah tentunya memiliki kalkulasi sendiri mengapa baru akan menaikkan harga BBM pada akhir Mei atau awal Juni 2008, namun tidak demikian dengan orang kecil yang setiap hari harus bergelut memenuhi kebutuhan pokoknya.

Perhitungan sebagian orang kecil sederhana saja, kalau pendapatannya tidak cukup memenuhi kebutuhan minimal, berarti harus berutang. Mereka memiliki harapan bahwa suatu saat pasti ada rezeki lebih. Inilah yang dijadikan cadangan mereka untuk menutup utang yang tidak bisa dielakkan itu.

Setiap kebijakan menaikkan harga komoditas strategis, seperti pangan dan BBM, yang paling sengsara terkena imbasnya adalah kelompok marjinal.

Korban terbesar dari kenaikan harga BBM adalah pegawai/buruh kecil. Mereka menghabiskan waktu bekerja seharian dengan upah tetap yang hanya pas-pasan untuk memenuhi kehidupan diri dan keluarganya. Bahkan mungkin malah minus di tengah melonjaknya harga barang dan jasa.

Di tengah lonjakan harga minyak dunia, pemerintah memang dipaksa untuk menyesuaikan harga minyak domestik dengan harga internasional jika tidak menginginkan APBN 2008 ‘berdarah-darah’ untuk terus menginfus subsidi beragam komoditas strategis, terutama BBM.

Sekarang ini harga BBM belum naik, tetapi harga kebutuhan lain sudah naik, padahal jutaan kepala keluarga miskin saat ini sangat membutuhkan tambahan penghasilan untuk menambal kekurangan belanja harian. Sementara bantuan tunai langsung (BLT) sebesar Rp 100 ribu per bulan untuk masyarakat miskin sebagai kompensasi kenaikan BBM belum turun.

Sebelum harga BBM naik, rakyat sudah menanggung akibatnya, yakni kenaikan semua harga barang. Sekarang tinggal menunggu keberanian pemerintah untuk memastikannya, kapan pil pahit itu diberikan kepada rakyatnya.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s