Guru Ujung Tombak Pendidikan

Oleh: Abdul Gafur
* Dosen PS Biologi FMIPA Unlam

GURU adalah ujung tombak pendidikan yang perannya sangat menentukan di ‘medan juang’ pendidikan kita. Bagaimana semestinya dan senyatanya ujung tombak itu?

Tombak yang baik harus dibuat dari bahan yang baik. Ujung tombak sudah sepatutnyalah terbuat dari besi pilihan agar tidak mudah patah, bengkok, tumpul atau berkarat. Sebagaimana ujung tombak, guru pun mestinya adalah orang pilihan dengan kualitas prima, setidaknya di atas rata-rata.
Jadi, empu atau pandai besi harus memilih besi yang terbaik untuk ditempa menjadi ujung tombak. Artinya, lembaga pendidikan pencetak guru harus berusaha menyeleksi calon peserta didiknya agar diperoleh masukan (input) yang baik, yang layak untuk dibina menjadi guru yang baik. Seleksi yang dilakukan mestinya berbeda dari seleksi oleh lembaga pencetak sarjana pertanian, teknik, ekonomi, atau kedokteran.

Guru tidak hanya harus mengajar, tetapi juga belajar. Salah satu faktor yang menentukan kemampuan belajar adalah kecerdasan intelektual (IQ). Karena itu, seorang guru seharusnya memiliki IQ baik. Tidak harus jenius, tetapi mestinya di atas atau minimal sama dengan rata-rata. Faktor ini sepatutnya diperhatikan dalam seleksi calon mahasiswa keguruan, karena IQ merupakan bawaan sejak lahir yang tidak bisa lagi berubah signifikan sepanjang hidup.

Selain IQ, kecerdasan emosi (EQ) adalah faktor yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam profesinya, terutama yang banyak berhubungan dengan orang lain, seperti guru. Perannya bahkan lebih penting dari IQ. Karena EQ bisa dilatih, pembinaan EQ semestinya mendapat porsi selayaknya dalam pendidikan calon guru. Meskipun demikian, pembinaan akan lebih mudah apabila mahasiswanya memang sudah memiliki EQ yang cukup baik.

Faktor lain yang turut menentukan keberhasilan menjadi guru adalah bakat. Ini memang merupakan kombinasi dari banyak hal. Seorang psikolog tentu bisa membedakan mana orang yang berbakat untuk menjadi guru dan mana yang tidak. Karena bakat adalah bawaan sebagaimana IQ, faktor ini mestinya diperhatikan dalam seleksi calon mahasiswa keguruan.

Empu yang baik akan mengetes hasil tempaannya. Inilah pengendalian mutu (QC, quality control) untuk mengantisipasi kesalahan dalam seleksi bahan atau proses penempaan. Sang empu tidak boleh sayang kepada ujung tombak bikinannya yang menurut keyakinannya kurang baik. Segala kekurangan harus diperbaiki. Mungkin ada yang harus ditempa ulang, atau bahkan kalau perlu dibuang.

Begitu pula, ujian mestinya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Tidak semestinya dosen atau lembaga pendidikan keguruan ‘membantu’ mahasiswanya yang sejatinya gagal. Yang tidak lolos QC harus ditempa ulang, yang tidak bisa diperbaiki lebih baik dibuang. Membantu satu orang di sini bisa berakibat fatal bagi kualitas pendidikan yang akhirnya mengorbankan ratusan bahkan ribuan orang.

Ujung tombak perlu sesekali diasah supaya tetap tajam. Itu artinya yang sudah menjadi guru tetap harus terus diasah pengetahuan dan ketrampilannya agar senantiasa mutakhir. Penataran, pelatihan, atau pendidikan lanjutan perlu diberikan kepada guru, bagaimanapun berpengalamannya mereka. Proses ini akan lebih mudah apabila ‘bahannya’ berkualitas baik, seperti dibahas di muka.

Tujuan mengasah adalah memelihara ketajaman tombak agar selalu berfungsi dengan baik. Bukan asal asah, asal mengkilat. Ironisnya, ‘pengasahan’ guru terkadang lebih menekankan kuantitas. Dalam penataran terkadang yang penting peserta hadir terus, yang terbukti dari presensinya, tanpa mengindahkan keterserapan materi. Yang penting jumlah jam kegiatan sudah sesuai dengan rencana, dan itupun bisa ‘diatur’. Belum lagi jadwal yang tidak masuk akal, dari pagi sampai malam. Ujian atau post-test, cuma ala kadarnya.

Ujung tombaknya sendiri sebagian tidak serius ketika diasah. Mungkin karena ia merasa masih cukup tajam atau karena berpendapat bahwa biarpun tumpul ia masih dapat berfungsi dengan baik. Mungkin pula karena ia pesimis bahwa ia masih bisa diasah, kondisinya memang tidak mungkin lagi diasah, atau karena sebab yang lain.

Selanjutnya, bagaimanapun bagusnya kualitas ujung tombak, ia tidak akan seberapa bermanfaat tanpa gagang yang baik. Itu artinya guru perlu didukung oleh fasilitas yang memadai di sekolah agar mereka dapat berfungsi secara optimal. Namun, hanya segelintir sekolah yang memiliki fasilitas lumayan untuk mendukung kinerja guru.

Yang terakhir, agar dapat dipergunakan kapan saja sebuah tombak harus ditempatkan di tempat yang mudah dijangkau. Tempat itu adalah tempat yang terhormat, misalnya ruang utama, bukan gudang yang penuh barang rongsokan.

Begitu pula dengan guru. Mereka harus dimuliakan, kesejahteraan mereka harus diperhatikan. Namun, kenyataannya kesejahteraan guru, walaupun ada peningkatan, masih belum menggembirakan apalagi menggiurkan.

Itulah sebabnya umumnya lulusan terbaik SLTA ogah menjadi guru. Mereka lebih berhasrat kuliah di Fakultas Kedokteran atau Teknik karena setelah lulus kesejahteraan dan gengsinya lebih baik.

Tidak banyak remaja potensial yang orisinil bercita-cita menjadi guru. Akibatnya, FKIP/STKIP terpaksa menyeleksi calon mahasiswa dengan setengah hati.

Karena bahan yang baik sulit didapat, si empu terpaksa menggunakan bahan seadanya. Sebagian bagus, sebagian tidak. Akibatnya, ujung tombak yang dihasilkan sebagian bagus sebagian tidak. Karena kebutuhan yang besar dan mendesak, QC tidak bisa serius, dan yang kualitasnya kurang bagus dipakai juga. Itulah kondisi kita.

Itu tadi dengan asumsi bahwa si empu sebenarnya memiliki kemampuan yang tinggi dalam tempa menempa. Kalau asumsi itu tidak terpenuhi, wah lebih runyam lagi.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s