Selamat Bekerja Pak Anton

INI adalah hari-hari pertama Anton Bachrul Alam bertugas sebagai Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan. Polisi berpangkat brigadir jenderal itu mengawali Senin pertamanya dengan Shalat Subuh berjamaah di Masjid Jami Banjarmasin. Dia bahkan tampil sebagai penceramah.

Anton yang dilantik Kapolri Jenderal Sutanto menggantikan Brigjen Pol Halba Rubis Nugroho pada Jumat, 16 Mei 2008, rupanya ingin langsung menyatu dengan masyarakat. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui kegiatan keagamaan.

Bagi masyarakat Kalsel, wajah Anton sebenarnya tidaklah begitu asing. Dia sering tampil di televisi memberikan keterangan berkaitan dengan tugasnya sebagai Wakil Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.

Namun dikenal masyarakat tidaklah cukup. Anton juga perlu mengenal masyarakat tempatnya bertugas. Dia harus mengetahui adat istiadat dan budaya urang Banjar. Dia juga perlu mendapat dukungan dari semua kalangan agar mudah menjalankan tugas. Apalagi tugas yang dipikulnya tidak ringan.

Dibandingkan tiga provinsi lain yang ada di Kalimantan, masyarakat di Kalsel tergolong lebih heterogen. Ini karena secara geografis, Kalsel termasuk daerah yang terbuka. Lalu lintas manusia dan perdagangan dari Jawa menuju Kalimantan Timur serta Kalimantan Tengah atau sebaliknya, hampir sebagian besar melalui Kalsel.

Meski daerahnya paling kecil, provinsi ini termasuk paling banyak penduduknya. Jumlahnya mencapai 3,1 juta jiwa. Namun sekitar 30 persennya tergolong miskin. Jumlah warga miskin semakin bertambah seiring dengan rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. Kondisi ini sangat ironis, mengingat Kalsel kaya akan sumber daya alam.

Keterbukaan, heterogenitas, kemiskinan, kesenjangan ekonomi tentunya sangat menentukan tingkat kriminalitas.

Selain persoalan kriminalitas, Anton dihadapkan pada masalah lingkungan. Pembabatan hutan dan pertambangan ilegal menjadi pemandangan sehari-hari.

Direktur Eksekutif Walhi Berry Nahdian Forqan, yang sebelumnya adalah Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, mengatakan ini tidak hanya dilakukan masyarakat lokal dan pengusaha kecil, tetapi juga perusahaan yang berskala nasional. Namun sayangnya yang sering ditindak polisi hanya pengusaha kecil. Sedang perusahaan nasional seenaknya mengeruk hasil bumi Antasari.

Leluasanya pembabatan hutan dan penambangan liar di Kalsel tentunya tidak lepas dari keterlibatan oknum aparat, termasuk dari kepolisian. Jadi jangan heran bila di daerah ini banyak penambang terkenal yang merupakan mantan anggota kepolisian.

Anton memang harus lebih memperhatikan kasus-kasus besar yang dampaknya dirasakan banyak masyarakat. Banjir hampir tiap tahun melanda daerah ini.

Polisi tidak selamanya hanya berkutat mengurusi kasus kejahatan biasa seperti perampokan dan perkelahian. Kejahatan kerah putih seperti mengeksploitasi lingkungan secara sembarangan, penipuan berkedok bisnis dan korupsi semakin meningkat seiring dengan perkembangan zaman.

Adapun mengenai pembuatan STNK dan BPKB yang lebih cepat hingga Polda Kalsel mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia, itu memang bagian dari pelayanan. Sudah wajar orang yang bayar pajak dilayani dengan lebih baik.

Hal-hal yang bersifat pelayanan serahkan saja tanggung jawabnya kepada bawahan. Jika yang bersangkutan tidak becus, ganti. Jangan sampai ada kesan prestasi yang kecil digembar-gemborkan, sedang tugas yang lebih besar diabaikan.

Selamat bekerja Bapak Anton Bachrul Alam. Masyarakat banua mendukung Anda.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s