Waisak dan Kebangkitan

LAIN dulu lain dengan sekarang. Tetapi ada yang selalu sama, yaitu pimpinan. Dari zaman dahulu hingga sekarang pimpinan selalu sama-sama rebutan.

Oleh: Bhikkhu Dhammasubho Mahathera

Negara utuh apabila
Bangsanya tidak melupakan sejarah
Rakyatnya tidak meninggalkan sastra, budaya sendiri
Pemimpinnya tidak melakukan kejahatan
Takut akan akibatnya

Para tetuha dan orangtua dahulu mempunyai kata-kata yang disarikan, sehingga meskipun hanya satu kata tetapi bila dijabarkan menjadi uraian cerita panjang dan memiliki makna mendalam. Segala segi diperhitungkan untung ruginya, sehingga kata-kata tersebut menjadi bermakna, bernilai, berisi dan menenteramkan.  Itu sebabnya, para tetuha, petinggi negara, raja, menteri, pidatonya sering disebut sabdo pandito ratu. Suara didengar, pentunjuk diikuti, perilakunya ditiru.

Mereka terpilih karena telah teruji dan terpuji sebagai pengayom dan pengayem’ rakyat. Sebelum bertindak terlebih dahulu merenungkan apa yang akan diucapkan dan dikaryakan.

Buddha Gotama dengan Pencerahan Agung, Penerangan Sempunra yang dicapai tepat pada purmasidhi bulan Waisak 25 abad lampau. Sebelum mulai berkarya damai terlebih dahulu puasa total selama 7 minggu (49 hari). Baru kemudian mulai membeberkan misi damai.

Pantas saja bila suara Buddha masih terdengar, bahkan semakin jelas didengar hingga kini. Karya-karyanya bermanfaat, petunjuknya masih bisa diikuti, perilakunya bisa ditiru, ajarannya masih dikenal bahkan semakin terkenal.

Pimpinan sekarang, terlebih dulu berkowar suara dan menyebar dana mengkampanyekan diri agar terpilih menjadi penguasa negeri. Setelah terpilih dan terduduk di singgasana seolah-olah terdiam seribu bahasa, nyaris tak terdengar lagi suaranya.

Seabad lampau, tanggal 20 Mei 1908 Boedi Oetomo lahir di muka bumi nusantara oleh para pembangkit jiwa nasionalisme. Boedi Oetomo bangkit dan cita-citanya manusiawi sekali berjuang demi kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan.

Yang mana orang-orang pada zaman itu hidup di bawah pemerintahan penjanjah Belanda. Sebagai kaum terjajah, amat manusiawi berkeinginan hidup merdeka bebas tanpa tekanan pihak manapun. Ingin sebagai manusia yang berharga, sebagai bangsa berdaulat, tidak dijajah bangsa lain di negerinya sendiri.

Menurut ahli nomorologi, angka 8 tampak memiliki daya mutakhir tersendiri di segala zaman. Terkait dengan angka 8, Boedi Oetomo  lahir tahun 1908. Tahun 1928 menggelegar suara Soempah Pemoeda. Keduanya—Kebangkitan Boedi Oetomo 1908 dan Soempah Pemoeda 1928—menjadi gelombang tsunami yang mengguncang, meluluhlantakkan kekuasaan penjajah kolonial Belanda di bumi nusantara.

Dan Negara Republik Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945. Angka 1+7=8 (bulan Agustus). Tahun 1945 secara matimatikanologi 1+9+4+5=19, dan jika angka sembilan dikurangi satu sama dengan delapan (8). Angka 8 sering dikaitkan dengan keberuntungan, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya. Partai Komunis Indonesia (PKI) dipimpin Moeso berontak di Madiun tahun 1948.

Zaman Orde Lama yang disebut era Soekarno jatuh era Soeharto dimulai 1968 dan dirobohkan tahun 1998. Berikutnya era ruwet—abad sibuk, zaman reformasi dimulai. Kini kita sedang berada di zaman ‘Capek Antrie’ tahun 2008.

Dua puluh lima abad lampau, tepat Purnama bulan Waisak 543 SM,  Buddha Gotama Mencapai Penerangan Agung, Kebijaksanaan Sempurna. Bangkit setelah enam tahun bertapa total menyiksa diri. Tujuan utamanya adalah mencapai bebas dari penjajah lahir batin yang menyengsarakan makhluk hidup.

Buddha berkata, sifat lobha, dosa, moha, (keserakahan, kebencian dan kedunguan) adalah penjajah yang menyebabkan penderitaan setiap kehidupan. Oleh karena itu, ketiga sifat tersebut harus dihapuskan demi kemerdekaan hidup di segala zaman.

Sumpah Pemuda berseru bahwa kapitalis, rasialis, dan imperialis adalah penjajah yang menyengsarakan. Yang dimaksud kapitalis adalah kaum serakah bermodal dan bermonopoli. Sedangkan rasialis adalah paham penyulut api kebencian, benci pada perbedaan bersumbu sara (suku, ras, agama), dan imperialis adalah sifat ketidakpedulian atas penderitaan pihak lain.

Bila ketiga jenis ‘benalu’ itu tumbuh di manapun, jika tidak dipangkas akan menggerogoti, cadangan pangan untuk rakyat habis dia korupsi. Maka dari itu, harus segera dipangkas.

Keberhasilan para pejuang karena bertumpu pada satu tujuan yang hendak dicapai, meskipun berbeda-beda dalam berpikir tetapi satu kepentingan yang sama.

Kegagalan masa kini, dalam banyak tindakan dengan dalih demi rakyat, meskipun berpikir di dalam satu gedung yang sama ternyata yang dipikirkan berbeda-beda kepentingannya.

Buddha Gotama, Boedi Oetomo, maupun Sumpah Pemuda, pemikirannya sama yaitu menempatkan harga hidup di atas harga diri,  menempatkan harga diri di atas harga materi.

Dalam ruang kehidupannya dibangun atas dasar kesamaan berpikir demi satu perasaan sebagai manusia, sehingga karya-karyanya bertahan lama. Tetap sejalan dengan denyut kehidupan di segala zaman dan menenteramkan.

Seabad lampau Boedi Oetomo menyadarkan kita 20 Mei 1908. Gema Tri Suci Waisak 20 Mei, terulang lagi.

Ketua Dewan Sesepuh Sangha Theravada Indonesia

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s