20 Konglomerat Kuasai HPH

 

HUTAN tropis di Indonesia sejak 1997-2000 mengalami proses pengurangan atau deforestri. Jumlahnya tak tanggung-tanggung  mencapai 2,83 juta hektare per tahun. Ironisnya, setelah dikelompokkan, jumlah Hak Pengusahaan Hutan (HPH) ternyata hanya dimiliki sekitar 20 konglomerat kehutanan.

“Artinya, setiap konglomerat menguasai sumber daya hutan untuk dieksploitasi lebih dari satu juta hektare,” kata H San Afri Awang saat menyampaikan pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM) di Balai Senat UGM,  Selasa, (17/6). Ketua Jurusan Manajemen Hutan ini menyampaikan pidato berjudul “Deforestasi dan Konstruksi Pengetahuan Hutan Berbasis Masyarakat”.

Pemberian izin bagi pemegang HPH pada era orde baru, menurut San Afri, menjadi babak baru sistem eksploitasi hutan alam tropika di luar Jawa yang dimulai secara menyeluruh pada 1968. Sampai tahun 2000, jumlah HPH di Indonesia mencapai sekitar 600 unit dengan area hutan produksi seluas 64 juta hektare.

Bertambahnya jumlah unit HPH yang beroperasi di Indonesia, maka jumlah kayu yang ditebang juga meningkat. San Afri memaparkan, pada periode 1960-1965 sebanyak 2,5 juta meter kubik  log ditebang, tahun 1970 sebanyak 10 juta kubik log, dan 1987 mencapai 26 juta kubik log. Pada 2007, penebangan kayu yang diperbolehkan dari hutan tropis sekitar 9 juta kubik.

“Dengan gambaran seperti itu, deforestri dan degradasi hutan tak dapat dihindarkan karena pemerintah memerlukan devisa untuk pembangunan nasional,” ujar San Afri.

Terkait keberadaan HPH di Kalsel, Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan (Kalsel), Suhardi Atmorejo, mengatakan, dari 15 perusahaan pemegang Hak Penguasaan Hutan (HPH ) yang sebelumnya beroperasi di wilayah ini, kini tinggal satu  yang berproduksi lantaran lainnya bangkrut.

Banyaknya HPH yang gulung tikar, menurut dia, terkait dari pembatasan jatah tebang untuk Kalsel yang terus berkurang dari tahun ke tahun. “Sebenarnya, masih ada tiga perusahaan HPH yang beroperasi di Kalsel, tetapi hanya satu HPH yang masih berproduksi, yaitu PT Ayayang di Kabupaten Tabalong,” katanya.(tic/ant)

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s