Kejaksaan atau KPK

PERINTAH Presiden agar Jaksa Agung Hendarman Supanji membersihkan internal Kejaksaan Agung oleh berbagai kalangan dinilai tidak efektif, karena pengawasan internal tidak akan menghasilkan perbaikan yang nyata. 

Orang-orang yang ada di dalam instansi itu sudah terkontaminasi dengan berbagai perilaku dan tindakan yang mereka alami sehari-hari, sehingga sulit diharapkan untuk bisa mengubah citra Kejaksaan.

Perintah Presiden itu disampaikan sehubungan dengan terungkapnya pembicaraan lewat telepon antara terdakwa penyuapan Arthalyta Suryani dengan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Untung Udji Santoso dan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kemas Yahya Rahman (kini sudah dilengserkan – Red). Kaset pembicaraan itu diputar dalam sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dengan terdakwa Arthalyta Suryani. 

Arthalyta adalah kepercayaan konglomerat Sjamsul Nursalim yang ngemplang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Ia ditangkap beberapa saat setelah menyerahkan uang sogokan kepada Jaksa Urip Tri Gunawan senilai Rp 6 miliar. 

Sebelum penyerahan uang, perkara Sjamsul Nursalim sudah lebih dulu dihentikan penyidikannya. Jaksa Urip sendiri yang menjadi Ketua Tim Jaksa kasus Sjamsul Nursalim ditangkap sebelum Arthalyta. Setelah penangkapan Urip, Arthalyta menghubungi Jamdatun. Rekaman pembicaraannya disadap KPK, isinya Jamdatun membuat skenario untuk menyelamatkan Urip dan Arthalyta.

Kejaksaan adalah instansi yang sudah lama ada. Citra Kejaksaan sebagai penuntut sekaligus penyidik untuk kasus pidana khusus, cukup ditakuti masyarakat. Belakangan bahkan ikut aktif menumpas korupsi termasuk BLBI. Karenanya, masyarakat terperangah ketika mengetahui kasus yang terjadi antara para Jaksa Agung Muda dan seorang terdakwa. Tubuh Kejaksaan pun pasti terguncang. Kejaksaan Agung kini ibarat kapal yang tengah diguncang badai. Akan dibiarkan tenggelam atau membuang muatannya agar kapalnya selamat.

Tidak pernah terpikirkan bahwa negeri ini tidak memiliki lembaga yang namanya Kejaksaan. Tetapi akan bisa dibayangkan bagaimana jika negeri ini memiliki Kejaksaan yang kualitasnya seperti sekarang ini. KPK dulu dibentuk antara lain karena Kejaksaan tidak bisa berfungsi sebagaimana diharapkan dan KPK mengambil alih sebagian tugasnya. KPK bisa karena didukung oleh staf-staf yang baru, yang memiliki dedikasi dan semangat kerja. 

Lantas apa mungkin semua staf Kejaksaan juga diganti yang baru, karena staf yang lama sudah terkena kontaminasi oleh iklim dan kondisi kerja yang kurang baik. Lantas berapa ribu staf yang harus disiapkan untuk mengganti?

Setahun yang lalu Departemen Keuangan mengganti seluruh staf Kantor Bea Cukai Tanjung Priok, mulai yang tertinggi sampai yang terendah. Jumlahnya 1.300 orang. Maksudnya supaya ada iklim kerja yang baru sehingga bisa menghapus pungutan liar yang merugikan negara, sekaligus meningkatkan citra Bea dan Cukai. Orang-orang pilihan itu dibebani tanggung jawab yang berat tetapi mendapat imbalan yang memadai. Belum sepenuhnya berhasil, masih ada pungutan liar, tapi pendapatan negara sudah naik berlipat.

Kita tidak ingin apa yang dilakukan Departemen Keuangan dilakukan pula oleh Kejaksaan karena sifatnya berbeda. Kita setuju dengan upaya pembenahan yang ketat dengan mengganti orang-orang yang bermasalah, kalau perlu dengan orang luar. Sedang staf yang lain harus segera menyesuaikan dengan kondisi dan iklim kerja yang baru. 

Sekarang zamannya sudah lain, cerita maling teriak maling sudah lewat, masyarakat sudah terbuka matanya. Karena itu, sikap dan perilaku aparat pun harus menyesuaikan dengan zaman.

Kita yakin masih banyak aparat Kejaksaan yang baik, yang mau diajak maju. Tapi kalau tidak mau, KPK terbukti bisa mengambil alih pekerjaan penuntutan. Dulu peran Bea dan Cukai pernah dilumpuhkan oleh pemerintah sendiri karena banyaknya penyelewengan. Fungsinya digantikan oleh SGS, sebuah lembaga yang disewa dari luar negeri. Ternyata lebih baik dari Bea dan Cukai. Jadi, kenapa tidak?

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s