Usir Hujan Saat Pelantikan Bupati

 

Mulut Darmowijoyo komat-kamit mengucapkan kalimat dalam bahasa Jawa. Dia duduk bergeming. Tangannya  memegang kembang dan  hio (dupa khas China).  Itulah bagian ritual yang dilakukan lelaki sepuh asal Gunung Kidul, Yogyakarta, ini untuk ‘mengusir’ hujan. 

Bagi orang kebanyakan apa yang diucapkan lelaki ini tak ada artinya. Akan tetapi, tidak bagi Darmowijoyo. Kalimat-kalimat yang dibacanya itu mengandung makna khusus. Mantra itu lah yang dia pelajari turun-temurun sebagai doa memindahkan hujan.

Mantra yang dibaca lelaki yang kerap disapa Mbah Kacer ini, juga mengandung maksud agar semuanya termasuk yang punya hajatan bisa selamat dan memohon agar hujan bisa disisihkan (alihkan). Bila hajatan atau acara selesai hujan bisa kembali lagi.

Sebagai pawang hujan, Darmowijoyo bukannya ingin menolak hujan. Cuma ingin mengalihkannya ke tempat lain. Hujan, menurutnya, anugerah Tuhan yang harus disyukuri karena termasuk sarana yang membantu kehidupan semua makhluk sehingga tidak boleh ditolak. Pastinya setiap pawang berkewajiban untuk menjaga daerahnya agar terhindar dari hujan. Tidak ada aturan yang jelas ke mana awan hujan itu mau dialihkan. 

“Pawang hujan bukannya menolak hujan tapi hanya mengalihkan. Karena hujan adalah anugerah Tuhan dan tidak boleh ditolak,” ujar pria yang bermukim di Kompleks Beringin Banjarbaru ini.

Walau namanya sudah sangat terkenal sebagai pawang hujan, namun kehidupannya masih sangat sederhana. Padahal jasanya sebagai pawang hujan bisa dibayar lebih Rp 300 ribu untuk satu tempat.

Memiliki keahlian mengalihkan atau menangkal hujan memang sudah dimiliki Darmowijoyo lebih 30 tahun. Di musim penghujan, Mbah Kacer yang sempat menjadi pemain ketoprak ini, sering dicari untuk mengamankan berbagai hajatan. Mulai pesta perkawinan, pertandingan sampai acara pelantikan bupati atau perayaan besar lainnya. Bahkan belum lama tadi dia diundang untuk menangkal hujan pada acara pelantian bupati di salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan. 

Tidak sembarang orang bisa menjadi pawang hujan. Selain itu, tidak banyak juga seseorang bisa dipercaya untuk menjadi pawang hujan. Sosok Mbah Kacer sendiri tak hanya dikenal di wilayah Kota Banjarbaru maupun Kalimantan Selatan tetapi sampai ke luar provinsi ini. Ia pernah diundang menjadi pawang hujan di kota Palangka Raya dan sejumlah daerah di Kalimantan Tengah.

Anugerah yang dimiliknya, bisa mengalihkan hujan,  memang ilmu warisan nenek buyutnya yang juga seorang paranormal. Hanya mengenyam pendidikan sekolah rakyat (zaman Jepang dulu) Mbah Kacer mengaku tak langsung menjadi pawang hujan. Di era 1942-an, saat pertama menetap di Banjarmasin, dia jmencari nafkah menjadi pemain ketoprak. Dari satu tempat ke tempat lain dengan membawakan lakon sebagai Mbah Kacer yang dikenal kocak. 

Berawal dari lakon di ketoprak itulah akhirnya Darmowijoyo lebih dikenal dengan panggilan Kacer atau Mbah Kacer, hingga sekarang.

“Sebenarnya nama Kacer supaya kelihatan ganjil karena dulunya saya berperan sebagai Pak Kacer saat main di ketoprak. Kacer sendiri kalau di Jawa nama burung,” tutur lelaki yang mengaku berusia hampir satu abad ini. 

Dia masih ingat nama ketoprak yang sempat dipimpinnya, yakni Ketoprak Moro Seneng. Sekarang sosok Mbah Kacer bukannya dikenal sebagai pemain ketoprak justru karena keahliannya menjadi pawang hujan. 

Sekarang hari tuanya banyak disibukan mempersiapkan berbagai bahan atau kerap disebut sajen (sesaji) untuk ritual menangkal hujan atau mendoakan keselamatan. Meski usianya hampir satu abad namun dia masih mampu membantu menjalani perannya sebagai pawang hujan. Terkadang dalam satu minggu ia harus mempersiapkan ritual di tiga tempat. (mia)

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s